Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Paris Hilton Ungkap Pengalaman Menyakitkan Alami Rejection Sensitive Dysphoria

Rabu, 28/01/2026
E!news

Paris Hilton berbicara jujur mengenai perjuangannya dengan kesehatan mental, khususnya pengalaman menghadapi Rejection Sensitive Dysphoria (RSD), kondisi yang kerap dikaitkan dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Pengakuan tersebut disampaikannya saat tampil dalam podcast The Skinny Confidential Him & Her Show.

Dalam perbincangan tersebut, Paris menjelaskan bahwa RSD membuatnya merasakan emosi negatif dengan intensitas yang luar biasa, bahkan menyerupai rasa sakit fisik. “Perasaan itu seperti rasa sakit secara fisik. Bahkan sering kali bukan karena orang lain benar-benar berpikir negatif, tapi seolah ada suara atau ‘iblis’ di dalam pikiran yang membesar-besarkan segalanya,” ungkapnya.

Bintang The Simple Life itu mengatakan bahwa dirinya merasakan emosi begitu dalam hingga terkadang terasa sangat menyiksa. Hal ini diperparah oleh kurangnya pemahaman tentang ADHD saat ia tumbuh besar. Paris mengungkapkan bahwa pada masa itu, ADHD sering dianggap sebagai kondisi yang hanya dialami anak laki-laki, membuatnya merasa bingung dan tidak dipahami.

“Di sekolah, semuanya terasa sangat sulit. Seberapa keras pun aku belajar, aku tidak pernah bisa mengingat apa pun. Nilai ujianku selalu buruk, aku sering dihukum dan masuk detensi,” kenangnya.

Namun seiring waktu, Paris mulai mempelajari lebih dalam tentang ADHD dan RSD. Pengetahuan tersebut membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kini, ketika perasaan menyakitkan itu muncul, ia mampu menenangkan diri dengan menyadari bahwa hal tersebut bukanlah kenyataan, melainkan respons RSD semata.

“Itu tidak nyata. Itu hanya RSD yang sedang muncul,” jelas Paris.

Keterbukaan Paris Hilton ini mendapat banyak apresiasi karena dinilai membantu meningkatkan kesadaran publik tentang ADHD dan Rejection Sensitive Dysphoria, terutama pada perempuan yang kerap mengalami salah diagnosis atau tidak terdiagnosis sama sekali sejak usia dini.

Tags

Terkini