Badai salju yang telah diprediksi selama beberapa hari akhirnya menerjang New York City pada hari kemarin. Salju tebal mengguyur seluruh lima wilayah (borough), disertai penurunan suhu drastis dan hembusan angin kencang. Di sejumlah titik, ketebalan salju bahkan mencapai hampir satu kaki.
Meski demikian, aktivitas kota tetap berjalan. Pemerintah Kota New York menyebut kesiapan matang dan kerja keras ribuan petugas lapangan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi badai musim dingin tersebut.
Lebih dari 5.000 petugas sanitasi dikerahkan untuk membersihkan sekitar 6.000 mil jalan, dengan dukungan 2.500 unit peralatan berat. Mereka bekerja tanpa henti untuk membajak salju, menyemprotkan cairan anti-es, serta menaburkan puluhan juta pon garam demi menjaga keselamatan pengguna jalan. Seluruh ruas jalan di kota dilaporkan telah berhasil dibersihkan.
Selain itu, kru Departemen Transportasi (DOT) mengaplikasikan hampir 19 ton larutan anti-pembekuan di jembatan-jembatan utama, termasuk di kawasan East River. Satuan tugas derek kota juga berperan penting dengan membantu 53 pengendara yang terjebak salju, mengawal kendaraan pembersih jalan, serta memastikan ambulans dapat menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan darurat.
Pemerintah kota memberikan apresiasi tinggi kepada para pekerja yang sering kali bekerja di balik layar. “Mereka adalah sesama warga New York yang menjaga kota ini tetap berjalan, apa pun tantangannya,” ujar pernyataan resmi pemerintah kota.
Meski badai terburuk telah berlalu, otoritas menegaskan pekerjaan belum selesai. Fokus utama kini adalah memastikan seluruh warga tetap aman dan hangat di tengah cuaca dingin ekstrem yang masih berlanjut. Protokol Code Blue diperketat sejak Jumat malam, memungkinkan tim penjangkauan menempatkan 170 orang tunawisma ke tempat penampungan, rumah aman, pusat singgah, hingga rumah sakit selama akhir pekan.
Pejabat kota mengingatkan bahwa berakhirnya badai tidak berarti berakhir pula risiko bagi warga tunawisma. Upaya penjangkauan justru terus ditingkatkan untuk menghubungkan kelompok rentan dengan layanan perlindungan.
Di sisi lain, warga merespons badai salju dengan beragam perasaan. Sebagian menikmati suasana musim dingin, sementara lainnya mengaku kewalahan. “Kami dari Georgia, belum pernah melihat salju setebal ini. Indah, tapi juga terlalu banyak,” ujar seorang warga. Ada pula yang menyebut badai kali ini sebagai yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan badai yang berhasil dilewati, New York kembali membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi cuaca ekstrem, berkat kesiapan sistem dan dedikasi para pekerja garis depan.