Davos – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa dokumen-dokumen yang ditujukan untuk mengakhiri perang antara Ukraina dan Rusia hampir selesai. Hal tersebut ia sampaikan saat berpidato dalam World Economic Forum (WEF) Davos, menegaskan komitmen Ukraina untuk mengakhiri konflik secara jujur dan tegas.
“Ini bukan proses yang sederhana. Namun dokumen-dokumen untuk mengakhiri perang ini hampir siap, dan itu sangat penting. Ukraina bekerja dengan penuh kejujuran dan determinasi, dan itu membuahkan hasil. Sekarang Rusia juga harus siap untuk mengakhiri agresi ini,” ujar Zelenskyy.
Di sela forum, Zelenskyy juga bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menyebut pertemuan tersebut sebagai “sangat sukses”, sementara pejabat Ukraina menilai pembicaraan berlangsung konstruktif meski belum menghasilkan terobosan signifikan.
Sementara itu, perwakilan Amerika Serikat Jared Kushner dan Steve Witkoff dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan utusan Rusia dan dijadwalkan bertolak ke Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Pembicaraan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia direncanakan dimulai di Abu Dhabi pada 23 Januari.
Dalam pidatonya, Zelenskyy juga menyoroti meningkatnya perhatian global terhadap isu Greenland, yang menurutnya memunculkan kebingungan di kalangan pemimpin dunia. Ia menilai banyak negara Eropa hanya menunggu sikap Amerika Serikat mereda tanpa memiliki strategi yang jelas.
“Apa artinya mengirim 40 tentara ke Greenland? Pesan apa yang ingin disampaikan? Kepada Putin? Kepada China? Dan yang paling penting, kepada Denmark?” kata Zelenskyy dengan nada kritis.
Ia kembali menegaskan pentingnya kemandirian pertahanan Eropa, termasuk peningkatan anggaran militer hingga minimal 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menurutnya, Eropa tidak bisa terus bergantung pada keyakinan bahwa NATO akan selalu bertindak tanpa pernah benar-benar diuji.
“Jika Putin memutuskan menyerang Lithuania atau Polandia, siapa yang akan merespons? Siapa?” ujarnya.
Zelenskyy juga mengkritik perpecahan internal di Eropa, mulai dari konflik antar pemimpin, partai politik, hingga komunitas masyarakat. Ia menilai perpecahan tersebut melemahkan posisi Eropa dalam menghadapi Rusia dan tantangan global lainnya.
“Alih-alih menjadi kekuatan global yang bersatu dan memimpin pembelaan terhadap kebebasan dunia, Eropa masih terfragmentasi. Ketika fokus Amerika bergeser, Eropa terlihat kehilangan arah dan hanya berharap Presiden AS berubah sikap. Tapi itu tidak akan terjadi,” tegasnya.