Aktor dan presenter Darius Sinathrya mengungkapkan dinamika kehidupan keluarganya bersama sang istri, Donna Agnesia, terutama soal waktu berdua yang belakangan semakin berkurang. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pasangan ini lebih banyak tercurah pada anak-anak mereka yang kini mulai beranjak remaja.
“Kalau lima tahun terakhir, me time berdua memang makin berkurang karena fokusnya ke anak-anak. Family time masih ada, tapi waktu berduanya yang berkurang,” ujar Darius. Meski demikian, ia dan Donna merasa kini sudah saatnya kembali meluangkan waktu khusus untuk berdua, sesekali juga mengajak sang putri, Sabrina, jika memungkinkan.
Darius mengakui, seiring bertambahnya usia anak-anak, ada rasa sedih yang tak terelakkan ketika mereka mulai memiliki dunia dan aktivitas sendiri. “Sabrina sudah makin remaja, pasti punya keinginan dan kegiatan sendiri. Kita ikuti, tapi ya sedih pasti ada,” tuturnya.
Lebih jauh, Darius juga berbagi pandangan soal tantangan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua, terutama di luar negeri. Menurutnya, untuk anak usia dewasa seperti mahasiswa, tinggal terpisah masih relatif memungkinkan. Namun, bagi anak yang masih di bawah umur, khususnya di Eropa, prosesnya jauh lebih kompleks karena menyangkut izin tinggal dan pendampingan orang tua.
“Yang paling penting itu tujuan, komitmen, dan konsistensi. Jangan pernah melepaskan ikatan dengan orang tua,” tegasnya. Ia juga menyoroti bahwa komunikasi lewat telepon atau video call saja terkadang tidak cukup. Kehadiran orang tua secara utuh tetap memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak.
Darius menilai perubahan dalam keluarga sering kali terjadi secara perlahan tanpa disadari. “Waktu berjalan pelan, tahu-tahu satu, dua, tiga tahun lewat, semuanya berubah, dan kita baru sadar,” katanya.
Terkait pilihan tinggal di Eropa, Darius mengungkapkan bahwa keluarganya memilih Portugal, tepatnya di kota Braga di wilayah utara. Alasan utamanya adalah faktor keamanan dan nilai kekeluargaan yang masih kuat. “Kotanya kecil, penduduknya enggak banyak, aman, dan family value-nya tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyadari risiko pergaulan tetap ada di mana pun. Menurut Darius, perbedaan kota dan negara sangat memengaruhi lingkungan sosial, termasuk hiburan dan kehidupan malam. Karena itu, nasihat orang tua dan karakter anak menjadi kunci utama.
Untuk putra-putranya, Lio dan Diego, aktivitas latihan sepak bola yang padat membuat energi mereka tersalurkan dengan baik. “Latihan bola bikin mereka capek, sekolah juga jamnya panjang, jadi sudah enggak ada energi lebih buat macam-macam,” ujarnya sambil tersenyum. Berbeda dengan Sabrina yang lebih menyukai musik dan kegiatan luar, namun tetap didampingi keluarga.
Menutup ceritanya, Darius menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai sejak dini. “Nilai yang baik itu berangkat dari keluarga. Jaga diri, jaga sikap. Apalagi di luar negeri, mereka harus melakukan semuanya sendiri, belajar survive, berbagi tugas, dan saling bantu,” pungkasnya.