Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima audiensi dr Tompi bersama sejumlah pekerja seni, musisi, insan film, dan relawan kemanusiaan untuk membahas kelanjutan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatra. Pertemuan tersebut membahas langkah konkret lanjutan bantuan sosial, termasuk logistik, kesehatan fisik, hingga pendampingan kesehatan mental.
Sejumlah tokoh hadir dalam audiensi tersebut, antara lain Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto, penyanyi Tompi, pembawa acara Melaney Ricardo, serta aktor Iko Uwais. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen kuat pekerja seni dalam gerakan kemanusiaan lintas sektor.
Dalam pertemuan itu, para pekerja seni menyampaikan bahwa fokus utama pembahasan adalah rencana lanjutan pengiriman bantuan ke Sumatra, termasuk program sosial yang direncanakan berjalan selama bulan Ramadan. Isu kesehatan mental korban bencana, khususnya anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, menjadi salah satu perhatian utama.
“Program bantuan sebenarnya sudah banyak berjalan. Hanya saja, informasinya belum semuanya sampai ke publik. Kami berharap hal-hal baik yang sudah dilakukan bisa disampaikan agar masyarakat tahu dan bisa ikut mengawasi,” ujar dr Tompi.
Dana Solidaritas Rp17,2 Miliar
Para pekerja seni juga melaporkan bahwa gerakan 100 Musisi Peduli telah menghimpun dana sebesar Rp17,2 miliar, yang masih terus berjalan melalui rekening penampungan ILUNI UI. Selain itu, kontribusi dari komunitas perfilman mencapai sekitar Rp2 miliar.
Dana tersebut rencananya akan digabung dan disalurkan secara transparan, dengan prioritas pada kebutuhan mendesak dan berjangka menengah. Bantuan yang telah dikirim ke lokasi terdampak antara lain pompa air, sementara ke depan akan difokuskan pada kebutuhan yang lebih berat, mengingat pasokan makanan dan pakaian mulai tercukupi.
“Masalah di lapangan saat ini bukan hanya ketersediaan barang, tetapi juga distribusi. Ini yang perlu terus dikoordinasikan,” jelasnya.
Rencana Kirim Tim Medis
Selain logistik, para pekerja seni juga berencana mengirim tim medis ke wilayah terdampak bencana. Tim tersebut direncanakan melibatkan dokter kulit, dokter bedah plastik, hingga dokter ortopedi, mengingat banyak korban mengalami penyakit kulit, luka, dan patah tulang akibat bencana banjir.
Pendampingan psikologis juga menjadi bagian penting dari program bantuan. Menurut para relawan, kehadiran langsung tokoh publik dan tenaga pendamping dinilai mampu memberikan dorongan semangat dan pemulihan mental bagi para korban.
Dorong Transparansi dan Partisipasi Publik
Dalam audiensi tersebut, Wapres Gibran menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai upaya penanganan bencana, meski diakui belum seluruhnya tersampaikan secara optimal ke masyarakat. Para pekerja seni pun mendorong adanya transparansi informasi, termasuk penyampaian peta jalan dan laporan perkembangan secara berkala.
“Kami bukan perpanjangan tangan pemerintah. Kami menyampaikan apa yang ada di lapangan. Kalau masih kurang, mari sama-sama kita suarakan agar bisa diperbaiki,” ujarnya.
Pertemuan ini juga menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat luas dan figur publik untuk ikut terlibat dalam aksi kemanusiaan, baik melalui donasi, penyebaran informasi, maupun kehadiran langsung di lapangan.
Para pekerja seni menegaskan bahwa penanganan bencana tidak pernah bisa dianggap selesai, namun dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan bantuan dapat tersalurkan lebih tepat sasaran, transparan, dan memberi dampak nyata bagi para korban.