Di balik ekspresi tenangnya yang nyaris tanpa gejolak, Oscar Piastri menyimpan ambisi besar yang membawanya menapaki jalur luar biasa menuju puncak Formula 1. Dari lintasan balap mobil remote control (RC) di Melbourne hingga podium tertinggi F1, pembalap McLaren berusia 24 tahun ini kini menjelma menjadi salah satu penantang gelar juara dunia, sembari menetap di Monako—pusat gravitasi dunia balap.
Monako: Rumah yang Tenang di Tengah Dunia yang Bising
Bagi sebagian besar orang, Monako identik dengan sirkuit sempit dan kemewahan tak berujung. Namun bagi Piastri, kehidupan di sana justru terasa jauh lebih normal saat akhir pekan balap usai. Ia mengaku masih kerap merasa surealis melintasi jalanan kota yang beberapa bulan sebelumnya dilahapnya dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam.
Tinggal di Monako juga memudahkannya berinteraksi dengan sesama pembalap Formula 1 seperti Lando Norris, George Russell, dan Alex Albon. Di luar lintasan, kebersamaan mereka diisi dengan aktivitas santai seperti bermain padel atau kartu Uno saat bepergian—meski Piastri sempat berseloroh soal “aturan keluarga” George Russell yang kerap dipertanyakan.
Awal yang Tak Biasa: Dari Mobil RC ke Karting
Berbeda dari kebanyakan pembalap elite, karier kompetitif Oscar Piastri tidak bermula dari gokart, melainkan mobil RC. Pada usia sembilan tahun, ia sudah menyabet gelar Juara Nasional Australia untuk balap mobil RC.
“Saya memang kompetitif sejak kecil. Mobil RC adalah pintu pertama saya ke dunia balap,” ujar Piastri, mengenang awal perjalanannya.
Setahun kemudian, ia beralih ke gokart. Keputusan terbesar datang saat usia 14 tahun, ketika ia memilih pindah ke Inggris dan tinggal di sekolah asrama demi mengejar mimpi Formula 1, meninggalkan kenyamanan rumah dan keluarga di Australia.
Sapu Bersih Kelas Junior dan Drama Kontrak
Nama Piastri mulai benar-benar diperhitungkan setelah ia mencetak rekor langka: menjuarai Formula Renault, Formula 3, dan Formula 2 secara beruntun. Prestasi ini menjadikannya salah satu talenta paling bersinar di generasinya.
Namun ironisnya, setelah menjuarai Formula 2, Piastri justru belum mendapat kursi balap utama dan harus menjadi pembalap cadangan. Situasi tersebut memicu drama kontrak besar di Formula 1 modern, saat ia secara terbuka menolak promosi ke Alpine melalui media sosial dan akhirnya bergabung dengan McLaren. Keputusan berani itu terbukti tepat—McLaren memberinya mobil kompetitif yang mampu bersaing di barisan depan.
Konsistensi Prestasi di Formula 1
Sejak debutnya bersama McLaren, Piastri menunjukkan perkembangan pesat. Kemenangan demi kemenangan, podium yang konsisten, serta performa matang di usia muda mengukuhkan statusnya sebagai calon juara dunia masa depan.
Dinamika dengan Lando Norris
Persaingan internal di McLaren kerap menjadi sorotan, terutama setelah kontroversi team order di Grand Prix Hungaria. Namun Piastri menegaskan hubungannya dengan Lando Norris tetap solid. Keduanya pernah memulai musim dari posisi ke-13 dan ke-14, dan kini bersama-sama membawa McLaren kembali ke papan atas Formula 1.
Filosofi Tenang di Tengah Tekanan
Julukan “Cool Cat” bukan tanpa alasan. Di radio tim, Piastri dikenal sangat tenang bahkan dalam situasi paling genting. Menurutnya, ketenangan itu adalah hasil pembelajaran hidup sejak usia muda.
“Saat pindah ke Eropa sendirian, saya belajar mengendalikan emosi. Kalau ingin mencapai tujuan besar, emosi harus dikelola,” ujarnya.
Sikap inilah yang membuatnya tetap fokus saat berduel roda-ke-roda dengan pembalap legendaris seperti Lewis Hamilton.
Kini, dari apartemennya di Monako, Oscar Piastri tidak hanya menikmati pemandangan Mediterania,
tetapi juga memandang masa depan yang terbentang luas. Tenang, terukur, dan mematikan di lintasan—Formula 1 tampaknya baru saja menyaksikan awal dari kisah besar seorang juara.