Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pentingnya peran Zionis Kristen dalam sejarah berdirinya dan keberlangsungan negara Israel. Hal tersebut disampaikannya saat bertemu dengan perwakilan komunitas Zionis Kristen, yang menurutnya telah menjadi mitra strategis Israel sejak abad ke-19, terutama di Amerika Serikat dan Inggris.
Netanyahu menyebut sulit membayangkan lahirnya kembali negara Yahudi tanpa dukungan kuat dari Zionis Kristen. Ia menilai kemitraan antara Zionisme Yahudi dan Zionisme Kristen telah berkembang menjadi hubungan yang solid dan saling menguatkan hingga saat ini. “Kami tidak memiliki sahabat yang lebih baik,” ujar Netanyahu, seraya mengenang hubungan panjangnya dengan sejumlah tokoh Zionis Kristen yang telah dikenalnya sejak masa muda.
Dalam pidatonya, Netanyahu mengungkapkan bahwa Israel telah melalui konflik di berbagai lini yang ia sebut sebagai “tujuh front” dan mampu bertahan. Namun, menurutnya kini muncul tantangan baru yang tak kalah penting, yakni pertempuran memperebutkan hati dan pikiran publik global, khususnya generasi muda di negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.
Ia menilai pertempuran opini tersebut bukan hanya milik Israel, melainkan bagian dari perjuangan bersama mempertahankan nilai-nilai peradaban Yudeo-Kristen. “Ini memengaruhi Israel, Amerika Serikat, aliansi kami, dan masa depan peradaban Barat,” tegasnya.
Netanyahu juga menyoroti ancaman ekstremisme global yang menurutnya berasal dari dua kekuatan utama, yakni ekstremisme Syiah yang dipimpin Iran serta ekstremisme Sunni yang dikaitkan dengan jaringan Ikhwanul Muslimin. Ia menyebut kedua poros tersebut memiliki pengaruh luas hingga ke Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika.
Dalam konteks keamanan, Netanyahu menekankan bahwa terorisme tidak boleh ditoleransi. Ia menolak gagasan bahwa terorisme perlu dipahami, dan menegaskan bahwa tindakan tersebut harus dihadapi serta dikalahkan. “Iman harus bersuara, dan terorisme harus dilawan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi komunitas Kristen yang menghadapi tekanan dan penganiayaan di sejumlah negara, seperti Suriah, Lebanon, Nigeria, dan Turki. Netanyahu menegaskan bahwa Israel berkomitmen melindungi komunitas Kristen dan memastikan mereka dapat hidup serta berkembang dengan aman. Ia bahkan menyebut Israel sebagai satu-satunya negara di kawasan yang secara aktif melakukan perlindungan tersebut.
Ke depan, Netanyahu menyampaikan rencana untuk membangun kerja sama internasional guna mendukung komunitas Kristen yang terpinggirkan di berbagai belahan dunia. Upaya ini disebut akan melibatkan berbagai bentuk dukungan strategis dan berkelanjutan.
Menutup pernyataannya, Netanyahu menyampaikan ucapan selamat Natal dan Tahun Baru kepada komunitas Zionis Kristen. Ia berharap tahun mendatang membawa kemakmuran, perdamaian, dan keamanan, khususnya bagi komunitas Kristen di seluruh dunia.