Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Ketegangan AS–Venezuela Meningkat Usai Penyitaan Kapal Tanker Minyak di Karibia

Selasa, 23/12/2025
Ketegangan AS–Venezuela Meningkat Usai Penyitaan Kapal Tanker Minyak di Karibia
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela ( Dok ABC News )

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali meningkat setelah militer AS, melalui Penjaga Pantai (Coast Guard), menyita sejumlah kapal tanker minyak di perairan dekat Venezuela. Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa otoritas AS saat ini masih aktif memburu satu kapal lain, setelah sebelumnya menyita sebuah tanker minyak pada akhir pekan lalu.

Penyitaan tersebut bukan yang pertama. Awal bulan ini, Penjaga Pantai AS juga telah menyita kapal tanker minyak lain di lepas pantai Venezuela. Langkah tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela, yang menuding Amerika Serikat melakukan pencurian dan pembajakan terhadap aset negaranya.

Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menegaskan akan terus melakukan penindakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pergerakan ilegal minyak yang dikenai sanksi internasional. AS menilai aktivitas tersebut melanggar aturan sanksi yang diberlakukan terhadap rezim Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Mantan Duta Besar AS untuk Venezuela, Jimmy Story, menilai situasi ini sebagai eskalasi tekanan yang signifikan terhadap pemerintahan Maduro. Menurutnya, langkah ini membuka “front baru” berupa tekanan ekonomi. Ia menjelaskan bahwa salah satu kapal yang disita, bernama Centuries, sebenarnya tidak masuk dalam daftar kapal yang terkena sanksi dan berlayar menggunakan bendera resmi Panama. Namun, Panama berpotensi mencabut pendaftaran kapal tersebut jika terbukti melanggar aturan maritim.

Berbeda dengan kapal Centuries, kapal lain bernama Bella One yang saat ini tengah dilacak oleh Penjaga Pantai AS disebut sebagai kapal yang telah dikenai sanksi dan menggunakan bendera kemudahan. Nasib kapal tersebut diperkirakan akan segera ditentukan dalam beberapa jam atau hari ke depan.

Meski situasi memanas, Jimmy Story menegaskan bahwa kondisi ini belum mengarah pada perang terbuka. Namun, ia mengakui peluang terjadinya konfrontasi meningkat, termasuk kemungkinan aksi kinetik terbatas di dalam wilayah Venezuela. Ia juga menilai pengerahan kekuatan angkatan laut AS di kawasan tersebut tidak semata-mata bertujuan memberantas penyelundupan narkoba, melainkan bagian dari tekanan strategis terhadap rezim Maduro.

Di tingkat regional, sejumlah negara Amerika Latin turut angkat suara. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva memperingatkan bahwa intervensi AS di Venezuela berpotensi berujung pada bencana. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Panama menyebut salah satu kapal yang disita AS tidak mematuhi aturan pelayaran internasional.

Meski demikian, Jimmy Story menepis anggapan bahwa Maduro memenangkan simpati publik regional. Ia mengutip hasil survei yang menunjukkan lebih dari 50 persen responden di Amerika Latin justru mendukung adanya intervensi AS di Venezuela. Hal ini, menurutnya, tidak terlepas dari krisis kemanusiaan yang memaksa hampir 9 juta warga Venezuela—sekitar 25 persen populasi—mengungsi ke negara-negara tetangga.

Terkait masa depan Venezuela, Story mengakui tantangan terbesar justru muncul setelah kemungkinan lengsernya Maduro. Negara tersebut dinilai telah mengalami kehancuran institusi selama lebih dari dua dekade, dengan keberadaan kelompok bersenjata ilegal seperti FARC, ELN, hingga jaringan internasional yang beroperasi di dalam negeri.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa rakyat Venezuela telah menyuarakan kehendaknya, dengan lebih dari 70 persen pemilih menolak Maduro. Dukungan internasional, baik dari Amerika Serikat maupun negara-negara kawasan, dinilai krusial untuk memulihkan demokrasi dan stabilitas Venezuela di masa depan.( ABC News )

Tags

Terkini