Jakarta — 20 Desember 2025-Perfilman Indonesia kembali menghadirkan kisah horor berbasis kearifan lokal melalui film “Sengkolo”, yang mengangkat konsep mistis dalam budaya Jawa tentang kesialan dan malapetaka yang dipercaya terus-menerus menimpa seseorang akibat pelanggaran adat, waktu sakral, atau laku hidup tertentu.
Dalam budaya Jawa, sengkolo dimaknai sebagai rangkaian peristiwa buruk yang datang berulang, bukan sekadar nasib sial biasa. Film ini mencoba menerjemahkan kepercayaan tersebut ke dalam narasi sinematik yang mencekam, sarat simbol budaya, serta konflik batin para tokohnya.
Teror yang Berangkat dari Ciri-ciri Sengkolo
Film “Sengkolo” menggambarkan sejumlah tanda yang diyakini masyarakat sebagai ciri seseorang terkena sengkolo. Tokoh utama digambarkan mengalami kesialan bertubi-tubi, perasaan tidak tenang, sakit tanpa sebab medis yang jelas, hingga kejadian-kejadian janggal yang terus berulang.
Atmosfer film dibangun perlahan, memperlihatkan bagaimana gangguan tersebut bukan hanya menyerang fisik, tetapi juga mental dan spiritual, hingga membuat karakter kehilangan kendali atas hidupnya.
Pelanggaran Adat Jadi Awal Petaka
Cerita film ini menyoroti beberapa penyebab sengkolo yang masih dipercaya dalam tradisi Jawa. Salah satunya adalah weton tertentu yang dianggap rentan terhadap energi negatif, terutama saat malam Satu Suro, waktu sakral dalam penanggalan Jawa.
Selain itu, film ini juga mengangkat tema pelanggaran pantangan adat, seperti tetap bepergian atau melakukan tindakan ceroboh di waktu yang dianggap keramat. Kondisi energi spiritual yang lemahjuga digambarkan sebagai celah masuknya pengaruh negatif yang memperparah teror.
Pesan Moral di Balik Horor
Tak hanya mengandalkan jumpscare, “Sengkolo” menyelipkan pesan filosofis tentang cara menghadapi malapetaka. Film ini menampilkan nilai eling lan waspada—kesadaran dan kehati-hatian dalam bertindak—sebagai kunci utama untuk menghindari sengkolo.
Tokoh-tokohnya diajak untuk menjaga laku dan tutur kata, menghormati waktu sakral serta pantangan adat, hingga melakukan introspeksi batin melalui doa dan perenungan. Menariknya, film ini menegaskan bahwa ritual bukan untuk mencari kekuatan gaib, melainkan untuk menjaga keseimbangan diri.
“Tidak semua hal harus ditantang atau diremehkan. Menghormati yang tak kita pahami adalah bentuk perlindungan,” menjadi pesan kuat yang terasa sepanjang film.
Horor Budaya yang Relevan
Dengan menggabungkan kepercayaan tradisional dan pendekatan sinema modern, “Sengkolo” hadir sebagai horor reflektif yang mengajak penonton berpikir, bukan sekadar takut. Film ini memperkaya khazanah horor Indonesia dengan menggali akar budaya Jawa dan nilai-nilai spiritual yang masih hidup di masyarakat.
Film “Sengkolo” dijanjikan menjadi tontonan yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga membuka ruang dialog tentang tradisi, kepercayaan, dan pentingnya niat baik dalam menjalani hidup.