Jakarta 17 Desember 2025-Piala Afrika (AFCON) selalu menyimpan cerita emosional bagi para pemain yang pernah merasakannya. Salah satu kisah paling berkesan datang dari perjalanan Timnas Aljazairyang akhirnya menjuarai AFCON 2019, setelah melewati jalan panjang penuh kegagalan, kritik, dan pengorbanan.
Seorang pemain senior Aljazair mengenang pertama kali ia mengikuti AFCON pada awal 2000-an, saat turnamen ini menjadi ajang dua tahunan yang selalu dinantikan para pemain Afrika, termasuk mereka yang tumbuh besar di Eropa. Ia mengingat masa akademi di Prancis, ketika para pemain dari berbagai latar belakang—Mali, Senegal, Aljazair, Pantai Gading, hingga Kamerun—berkumpul di depan televisi, saling mendukung negara masing-masing sambil bercanda tentang hasil pertandingan.
Pengalaman pahit mulai terasa saat AFCON 2013 di Afrika Selatan. Aljazair tergabung di “grup neraka” bersama Tunisia, Togo, dan Pantai Gading. Meski tampil baik, kegagalan memaksimalkan peluang menjadi masalah besar. Gol Tunisia di menit ke-93 pada laga pembuka menjadi titik balik yang “membunuh” langkah Aljazair di turnamen tersebut. Hal serupa terulang di AFCON 2017 di Gabon, ketika hasil imbang di laga awal membuat mereka sulit bangkit.
Namun, semua pengalaman itu menjadi pelajaran berharga. “AFCON mengajarkan kami apa yang harus dan tidak boleh dilakukan,” kenangnya. Pelajaran inilah yang menjadi fondasi kesuksesan di AFCON 2019.
Menjelang turnamen 2019, kepercayaan diri mulai tumbuh. Meski ia menjadi pemain tertua di skuad dan menerima banyak kritik—bahkan sebagian media mempertanyakan pemanggilannya—ia justru menjadikan kritik sebagai bahan bakar motivasi. Ia yakin sesuatu yang besar akan terjadi.
Keyakinan itu terbukti. Kemenangan atas Senegal di fase grup memperkuat mental tim dan memungkinkan pelatih Djamel Belmadi melakukan rotasi. Kebersamaan menjadi kunci utama. Para pemain hampir selalu bersama sepanjang turnamen, menciptakan ikatan kuat di dalam dan luar lapangan.
Laga-laga krusial pun dilewati dengan dramatis, termasuk pertandingan berat dalam suhu ekstrem sekitar 40 derajat. Adu penalti yang biasanya menjadi “kutukan” bagi Aljazair akhirnya berhasil dilewati, membuka jalan ke semifinal. Momen ikonik hadir saat gol tendangan bebas Riyad Mahrez di menit akhir mengantar Aljazair ke final, disambut euforia luar biasa di tanah air—stadion-stadion penuh dengan puluhan ribu suporter yang menonton lewat layar besar.
Final pun dimenangkan dengan perjuangan keras. Meski bukan pertandingan paling indah, Aljazair tampil disiplin dan rela bertahan demi menjaga “harta karun” yang sudah di genggaman.
Bagi sang pemain, mengangkat trofi AFCON di usia 33 tahun menjadi puncak karier. Setelah perjalanan hidup yang tidak mudah—bahkan sempat tanpa klub di usia 20 tahun—gelar juara bersama negara sendiri terasa sangat emosional. Ia juga masuk Tim Terbaik Turnamen, sebuah penegasan bahwa kritik sebelumnya salah arah.
“Ini bukan balas dendam, tapi pembuktian,” ujarnya. Namun yang terpenting baginya adalah kebersamaan tim dan kenangan yang tercipta. Gelar AFCON 2019 bukan sekadar trofi, melainkan simbol persatuan, ketekunan, dan mimpi yang akhirnya terwujud bagi Aljazair.