Lando Norris masih tersenyum lebar dua jam setelah balapan selesai. Di ruang wawancara yang penuh emosi itu, ia baru saja meraih gelar Juara Dunia Formula 1 2025, pencapaian yang sejak kecil hanya ia lihat lewat layar televisi.
“Rasanya masih gila. Aku baru dari toilet, itu pertama kali aku sendirian setelah balapan, dan aku tiba-tiba bilang ke diri sendiri: Aku berhasil. Aku benar-benar berhasil,” ujar Norris, tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
“Ini mimpi anak enam tahun yang jadi kenyataan”
Norris mengenang dirinya kecil yang bermimpi menjadi pembalap F1. Kini, di usia 26 tahun, ia berdiri di puncak dunia.
“Aku melihat F1 di TV waktu umur enam tahun dan bilang ‘Aku mau melakukan itu.’ Sekarang aku di sini, dan aku mencapainya. Gila rasanya,” katanya.
Norris menegaskan, gelar ini bukan miliknya seorang diri. “Semua ini buat orangtuaku, keluargaku, engineer, mekanik, semua orang di pabrik. Mereka bekerja tanpa lelah. Hari ini, ucapan terima kasihku adalah sebuah kejuaraan.”
Detik-detik emosional jelang garis finis
Saat balapan memasuki lap-lap akhir, Norris mengaku menahan diri agar tidak larut dalam euforia lebih awal.
“Tiga tikungan sebelum finis, itu pertama kalinya aku membiarkan diriku berpikir ‘aku akan jadi juara’. Di bawah hotel, aku sempat bilang, ‘Eh, aku belum nangis!’ Dua tikungan kemudian aku ingat mamaku… langsung keluar air mata,” tutur Norris sambil tertawa.
Ketika akhirnya melewati garis finis, Norris mengaku semua emosi langsung pecah.
“Itu momen yang tak akan pernah aku lupakan.”
Pelukan pertama untuk orang tua
Begitu turun dari mobil, ia berlari ke dua orang terpenting dalam hidupnya—ibu dan ayahnya.
“Aku nggak akan ada di sini tanpa mereka. Mereka memberi aku kesempatan menjalani hidup yang luar biasa sejak kecil. Mereka yang membuat semua ini mungkin.”
Kerja keras yang membalik 34 poin
Norris sempat tertinggal 34 poin dalam perebutan gelar, terutama setelah momen pahit di Zandvoort.
“Aku harus sempurna setelah itu: menang banyak balapan, selalu mengalahkan Max dan Oscar. Itu terasa hampir mustahil… tapi kami berhasil.”
Ia mengungkapkan bahwa dukungan dari nama-nama besar seperti Lewis Hamilton, Sebastian Vettel, Casey Stoner, dan bahkan pesan-pesan kecil dari mereka, menjadi dorongan penting saat tekanan mencapai puncak.
Menghormati rival: Max Verstappen & Oscar Piastri
Norris memberi penghormatan besar bagi kedua pesaingnya.
“Max adalah salah satu yang terbaik sepanjang masa. Oscar juga—dia membuat hidupku sangat sulit tahun ini. Tanpa mereka, aku bukan aku yang sekarang.”
Membawa McLaren kembali ke puncak
Saat kembali ke markas McLaren nanti, Norris sadar betapa besarnya arti gelar ini.
“Namaku akan ada di dinding itu, bersama Senna, Prost, Hakkinen, Lewis. Dan aku bangga menjadi bagian dari cerita McLaren. Ini adalah tim yang kuimpikan sejak hari pertama.”
Satu dari 35 orang dalam sejarah
Dengan gelar ini, Norris bergabung dengan daftar eksklusif hanya 35 juara dunia F1 sepanjang sejarah.
“Itu gila. Tidak banyak orang di muka bumi yang bisa bilang mereka hidup dari mimpi mereka. Aku beruntung. Sangat beruntung.”
Pesan untuk “Lando kecil”
Jika bisa kembali ke masa kecil, apa yang ingin ia sampaikan kepada dirinya sendiri?
“Jangan berubah. Nikmati semuanya. Kamu akan melakukan kesalahan, kamu akan belajar, tapi semua itu membawamu ke sini.”
Dengan air mata, senyum, dan suara serak penuh kebahagiaan, Lando Norris mengakhiri wawancara itu dengan kata-kata sederhana:
“Aku hanya ingin hidup bahagia… dan hari ini, aku adalah orang paling bahagia di dunia.”