Jakarta — 4 Desember 2025- Banjir besar yang melanda empat negara di Asia Tenggara terus menimbulkan dampak luas. Lebih dari 1 juta orang terpaksa mengungsi, sementara jumlah korban meninggal di Indonesia dan Sri Lanka terus bertambah. Bencana ini dipicu oleh siklon tropis langkayang membawa curah hujan ekstrem ke Sri Lanka, Sumatra, Thailand Selatan, dan Malaysia Utara.
Aceh Ditelan Banjir, Rumah Tersapu Arus Deras
Tayangan dramatis dari Aceh memperlihatkan beberapa kawasan benar-benar tenggelam. Dalam salah satu rekaman, warga hanya bisa menyaksikan pasrah ketika arus banjir yang sangat kuat menghanyutkan sebuah rumah. Bagi banyak penduduk, kejadian itu memunculkan kembali trauma tsunami 2004.
Hingga Rabu malam, angka korban meninggal di Indonesia terus meningkat. 744 orang dilaporkan tewas, lebih dari 500 orang masih hilang, dan 3,3 juta warga terdampak banjir dan longsor.
“Lebih dari 50 kilometer jalan tertutup lumpur tebal,” ujar Astrada Estri dari BBC News Indonesia. Kondisi itu membuat banyak desa di Aceh dan Tapanuli terisolasi hampir seminggu. Bantuan makanan, air bersih, dan pakaian terhenti total.
Sebagian warga yang putus asa bahkan melakukan penjarahan ke toko dan gudang karena sudah kehabisan makanan.
Akses Terbatas, Bantuan Sulit Masuk
Pemerintah Indonesia mengerahkan tim SAR, TNI, dan relawan untuk membuka akses jalan, namun medan yang berat membuat bantuan harus dibawa berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Presiden telah meninjau langsung lokasi bencana dan menjanjikan percepatan distribusi bantuan.
Sri Lanka: Korban Tewas Melonjak, Infrastruktur Terpuruk
Di Sri Lanka, situasinya juga memburuk. Editor BBC Sinhala, Ashara Danasakara, melaporkan bahwa jumlah korban tewas naik menjadi 410 orang, sementara 336 lainnya masih hilang.
Lebih dari 1,4 juta warga terdampak banjir dan tanah longsor yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Operasi penyelamatan dilakukan oleh angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara, dibantu India dan Pakistan. Infrastruktur yang rusak parah mulai diperbaiki, meski beberapa daerah terpencil baru bisa dijangkau hari ini.
Pemerintah Sri Lanka mengalokasikan 30 miliar rupee untuk bantuan darurat, tetapi tekanan ekonomi masih menghantui negara tersebut yang tengah berupaya memenuhi target IMF.
“Ini bencana terbesar setelah tsunami,” kata Ashara. “Kerusakan juga menimpa kawasan wisata yang seharusnya menjadi sumber pemasukan utama menjelang musim liburan.”
Sumatra Barat: Air Bersih Terputus, Warga Kehilangan Rumah
Dari Padang, Sumatra Barat, jurnalis BBC Dadananda melaporkan bahwa fasilitas air bersih rusak dan suplai terputus di banyak wilayah.
“Banjir bandang dan longsor menghantam rumah dan usaha kecil. Infrastruktur air bersih hancur, suplai terputus,” ujarnya.
Meskipun peringatan cuaca telah dikeluarkan, hujan ekstrem yang turun tiba-tiba membuat warga tidak punya banyak waktu untuk bersiap.
Kemurkaan Publik: Deforestasi dan Perubahan Iklim Disorot
Di berbagai wilayah Indonesia, kemarahan warga meningkat karena dugaan maraknya deforestasi yang memperparah bencana. Para ahli mengonfirmasi bahwa:
• Penebangan hutan
• Alih fungsi lahan
• Minimnya pengawasan lingkungan
semakin memperburuk dampak cuaca ekstrem.
Perubahan iklim global juga disebut memperbesar risiko curah hujan ekstrem seperti yang terjadi kali ini.
Bencana Multinegara, Respons Terkoordinasi Diperlukan
Dengan korban jiwa terus bertambah dan jutaan warga kehilangan tempat tinggal, negara-negara yang terdampak kini berlomba untuk menyalurkan bantuan, memperbaiki akses, dan mencegah bencana susulan.
Namun hingga kini, kondisi di beberapa wilayah—terutama Aceh dan Sumatra Barat—masih sangat genting, dan proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu lama.
Asia Tenggara kembali dihadapkan pada bencana alam berskala besar, di tengah meningkatnya risiko iklim ekstrem dari tahun ke tahun.