Jakarta, 15 November 2025 — Polemik baru kembali mencuat antara presenter Ruben Onsu dan mantan istrinya, Sarwendah, setelah munculnya pernyataan kuasa hukum Sarwendah mengenai kedatangan debt collector terkait dugaan tunggakan pembiayaan sebuah kendaraan.
Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menilai konferensi pers tersebut tidak seharusnya digelar jika persoalannya semata-mata mengenai kunjungan debt collector, karena menurutnya hal tersebut merupakan ranah privat dan memiliki mekanisme hukum yang jelas.
“Kami mempertanyakan apa yang begitu urgennya hingga harus ada preskon hanya karena masalah debt collector. Jika ini soal tata cara penagihan yang melanggar aturan OJK, silakan diproses. Tapi kalau tidak, langkah ini justru patut diduga ingin mendiskreditkan klien kami,” tegas Minola dalam jumpa pers di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur.
Minolta: Jatuh Tempo Belum Tiba dan Mobil Berada di Bengkel
Minola juga meluruskan narasi bahwa dirinya disebut sudah mengetahui lebih awal permasalahan tersebut. Ia menyebut baru mengetahui setelah ditanyakan oleh pihak kuasa hukum Sarwendah.
“Klien kami menyampaikan bahwa jatuh temponya belum tiba. Jadi aneh kalau sudah ada penagihan. Mobilnya pun saat itu ada di bengkel,” ujarnya.
Kuasa hukum Ruben menegaskan bahwa OJK telah mengatur tata cara penagihan kredit bermasalah, yang harus diawali teguran dan peringatan terlebih dahulu.
Ada Upaya Memojokkan Ruben”
Minola menyayangkan jika isu kunjungan debt collector justru dibawa ke publik untuk membangun opini bahwa Ruben sedang tidak mampu secara ekonomi.
Ia menegaskan, sejak perceraian pada 1 September 2024, Ruben tetap menjalankan tanggung jawabnya terhadap anak-anak serta kebutuhan rumah tangga Sarwendah.
Minola mengungkapkan bukti transfer bulanan yang totalnya mencapai:
Kewajiban Nafkah yang Diklaim Telah Dibayar Ruben
|
Bulan (2024) |
Total Transfer Nafkah |
|
September |
Rp 242.629.000 |
|
Oktober |
Rp 265.000.000 |
Termasuk di dalamnya:
• Biaya listrik: Rp 12,9 juta
• Bensin & tol
• Gaji pengasuh dan sopir
• Uang kebersihan, plastik sampah & tisu Rp 5,2 juta per bulan
• Sarang burung: Rp 9,3 juta
“Siapa mantan suami yang masih membiayai kehidupan mantan istri dan anak sampai ratusan juta per bulan? Jadi jangan dibangun framing seolah klien kami lalai membayar cicilan,” ujarnya.
Persoalan yang Lebih Besar: Hak Bertemu Anak
Minola menegaskan bahwa inti persoalan sebenarnya bukan hanya soal penagihan kendaraan, tetapi soal hak ayah bertemu dengan anak.
“Ketemu saja tidak boleh. Ada acara balet, klien kami datang bawa bunga, tapi anak tak kunjung keluar dari pintu itu. Ini yang jauh lebih penting dari isu debt collector,” tegasnya.
Minola menambahkan bahwa komitmen awal menyebut Ruben berhak bertemu anak 2–3 hari per minggu, namun peluang itu disebut tidak pernah diberikan.
Pertanyaan Kunci yang Diajukan Pihak Ruben
1. Mengapa debt collector datang ke alamat Sarwendah, padahal objek kredit bukan berada di alamat itu?
2. Jika jatuh tempo belum tiba, atas dasar apa penagihan dilakukan?
3. Apakah konferensi pers ini bertujuan memojokkan Ruben?
4. Mengapa Sorotan lebih besar diarahkan pada dugaan tunggakan, bukan pada pembatasan hak ayah bertemu anak?
Minola mengingatkan bahwa persoalan hukum yang menyangkut kredit kendaraan memiliki jalur penyelesaian formal tanpa perlu membawanya menjadi konsumsi publik, kecuali terdapat pelanggaran hukum dalam penagihannya.
“Tidak ada mantan ayah, tidak ada mantan anak. Hubungan itu tidak bisa diputuskan. Jangan gunakan isu ekonomi sebagai tameng untuk menghalangi pertemuan seorang ayah dengan anaknya,” tutup Minola.