Jakarta, 11 November 2025 — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka menerima audiensi dari mahasiswa Jurusan Sosiologi Angkatan 2023 Universitas Airlangga (Unair) di Istana Wapres, Jakarta Pusat, pada Senin (10/11). Dalam pertemuan tersebut, Gibran berdialog santai dengan para mahasiswa mengenai isu-isu kebangsaan dan strategi pembangunan nasional, dengan fokus utama pada percepatan pembangunan di Papua.
“Oke, tapi hari ini saya mau bicara masalah Papua. Di sana problemnya banyak sekali, terutama di Manokwari. Saya yakin teman-teman muda di sini banyak punya terobosan dan inovasi,” ujar Gibran membuka pembicaraan.
Wapres Gibran kemudian menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Manokwari dan Jayapura beberapa waktu lalu. Ia juga sempat menghadiri peringatan 50 tahun kemerdekaan Papua Nugini sebelum kembali ke Indonesia untuk menghadiri rapat perdana bersama Komite Eksekutif Papua, lembaga baru yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto guna mempercepat pembangunan di wilayah tersebut.
Menurut Gibran, kini terdapat dua lembaga utama yang bertugas mempercepat pembangunan di Papua, yaitu Badan Percepatan Pembangunan Papua dan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP)serta Komite Eksekutif Papua. Keduanya memiliki mandat untuk memperkuat koordinasi, efisiensi, dan pengawasan pembangunan di wilayah timur Indonesia itu.
“Saya sudah kasih arahan ke sana, dan saya juga turun langsung lihat kondisi sekolah, pasar, dan fasilitas olahraga. Banyak masalah yang harus diselesaikan,” kata Gibran.
Gibran menyoroti kondisi fasilitas kesehatan di Papua yang masih terbatas. Ia menyebut, alat EKGbaru saja tersedia di rumah sakit Manokwari setelah menunggu lama. Banyak warga yang masih harus terbang ke Makassar untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan.
“Makanya di era Presiden Prabowo ini, akan dibangun 32 rumah sakit baru, dan 24 di antaranya berada di Papua. Ini bentuk komitmen kita supaya masyarakat di sana bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” tegasnya.
Selain sektor kesehatan, Gibran juga mengulas kondisi ekonomi dan infrastruktur di Jayapura. Ia menggambarkan situasi pasar yang masih sederhana dan belum tertata, dengan pedagang menjual hasil bumi di atas terpal seadanya.
“Pasarnya becek, panas, tapi semangat masyarakat luar biasa. Mereka jual sayur, cabai, pisang dengan harga lima ribuan. Ini harus kita bantu supaya lebih proper, bersih, dan nyaman,” ujarnya.
Gibran menyampaikan, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah proyek besar untuk mendorong ekonomi Papua, termasuk pembangunan terminal baru di Manokwari yang akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, serta lapangan olahraga multifungsi yang dilengkapi fasilitas sepak bola, basket, futsal, gym, dan creative hub untuk pelatihan AI dan blockchain. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2025.
“Di Surabaya sudah banyak creative hub seperti itu. Papua belum ada. Ini yang akan kita bangun agar anak muda di sana juga bisa berinovasi,” tutur Gibran.
Dalam bidang pendidikan, Gibran menyinggung keterbatasan akses digital di beberapa wilayah Papua. Banyak sekolah masih belum memiliki jaringan internet yang memadai.
“Kalian di sini mungkin mengeluh internet lemot, tapi di sana mereka bahkan belum punya sinyal. Makanya kita kasih bantuan laptop dan dukungan MBG agar mereka bisa belajar lebih baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, proyek jalan Trans Papua yang telah mencapai sekitar 2.000 kilometermenjadi salah satu tonggak penting dalam pemerataan pembangunan di wilayah tersebut. Namun, Gibran menekankan bahwa pembangunan Papua merupakan proses jangka panjang yang harus berkelanjutan lintas pemerintahan.
“Pembangunan itu tidak bisa selesai satu tahun atau satu periode presiden. Harus berkelanjutan. Kalau nanti semua infrastruktur selesai, inflasi bisa turun dan ekonomi Papua akan tumbuh pesat,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut berlangsung akrab dan inspiratif. Gibran bahkan mengundang para mahasiswa untuk ikut melihat langsung kondisi Papua sebagai bagian dari upaya membangun empati dan semangat kontribusi nyata bagi Indonesia Timur. ( Biro Sekeapres)