Citralive.com, Salah satu duel udara paling legendaris dalam sejarah Perang Dunia I terjadi ketika Werner Voss, ace muda Jerman berusia 20 tahun, menghadapi enam pilot terbaik Inggris sekaligus dalam pertempuran sengit di atas garis depan.
Dengan mengendarai Fokker triplane prototipe, Voss menunjukkan kemampuan manuver luar biasa. Ia berhasil mengimbangi gempuran pesawat S.E.5. Inggris lewat aksi akrobatik udara yang membuat lawannya kewalahan. Beberapa kali ia mampu keluar dari kepungan, bahkan sempat menembakkan peluru tepat ke arah mesin lawan.
Pertempuran semakin kacau ketika sebuah Albatros D.III Jerman tanpa sengaja masuk ke dalam dogfight, sempat memberi Voss keunggulan numerik. Namun, pilot Inggris seperti James McCuddendan Arthur Rhys-Davids cepat menutup celah, mengubah duel menjadi perburuan udara yang menegangkan.
Meski hujan peluru terus menghantam, Voss dianggap “tak tersentuh” oleh lawannya. McCudden kemudian menggambarkan momen itu sebagai adegan di mana triplane Jerman berada di tengah “kerucut peluru tracer” dari lima pesawat Inggris sekaligus, namun tetap bertahan.
Sayangnya, keberanian Voss akhirnya berujung tragis. Dalam serangan terakhir, pesawatnya ditembaki dari berbagai arah. Rhys-Davids berhasil melepaskan tembakan penentu dari belakang, menghantam kokpit dan badan pesawat. Triplane Voss kehilangan kendali dan jatuh menghantam tanah, hancur berkeping-keping.
Pertempuran udara yang berlangsung sekitar 10 menit itu menewaskan Werner Voss, yang saat itu sudah mengoleksi 48 kemenangan udara dan tengah mengejar rekor sahabat sekaligus rivalnya, Manfred von Richthofen, si “Baron Merah”.
Meski kalah jumlah, Voss sempat melukai hampir semua lawannya. Namun luar biasanya, keenam pilot Inggris kembali ke markas dengan pesawat utuh. Kisah ini hingga kini dikenang sebagai simbol keberanian seorang pilot muda yang memilih bertarung hingga akhir, alih-alih mundur demi keselamatan diri.