Abio Salsinha, seorang penyanyi berdarah Liquica, Timor Leste, dikenal tidak hanya karena suaranya yang merdu, tetapi juga karena kecintaannya terhadap desa kelahirannya, Asumano. Desa yang terletak di sudut terpencil ini sering kali diterjemahkan sebagai "Anjing dan Ayam" dalam bahasa Indonesia, dan terkenal karena keindahan serta kekayaan alamnya.
Terletak sekitar 50 km dari kota Dili, perjalanan ke Asumano memakan waktu sekitar 1,5 jam. Meskipun jaraknya cukup jauh, Asumano menawarkan keindahan dan keunikan yang membuat para pengunjung selalu ingin kembali. Desa ini dikenal dengan hasil bumi yang melimpah, seperti jeruk, nanas, dan kopi yang berkualitas tinggi. "Sekali makan manisnya jeruk dan nanas, susah ingin kembali ke Dili," ujar Abio dengan bangga.
Asumano juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Desa ini menjadi saksi bisu peperangan sejak zaman Jepang dan Portugis, dengan berbagai peninggalan seperti benteng tempur dan lubang GELUGOA yang terkenal. Kini, pemerintah berupaya menarik wisatawan dengan mengembangkan potensi sejarah dan keindahan alamnya.
Desa ini terletak di ujung distrik Liquica dan berbatasan dengan kecamatan Bazartete serta distrik Ermera. Meskipun lokasinya terpencil, Asumano telah dikunjungi oleh pemimpin-pemimpin penting Timor Leste, seperti Xanana Gusmao, Ramos Horta, Taur Matan Ruak, serta Uskup Dioses Maliana, Dom Norberto do Amaral. "Para pemimpin sangat senang dengan keramahan masyarakat Asumano," kata Abio.
Abio juga bercerita tentang sungai Kotota, yang harus dilewati untuk mencapai desa ini. "Airnya bersih dan sangat dingin, meskipun musim kemarau panjang," ujarnya. Namun, saat hujan deras, masyarakat kesulitan melintas karena belum ada jembatan. "Kami sudah mengusulkan kepada pemerintah agar dibangun jembatan," tambahnya.
Sebagai upaya untuk membangun desa Asumano, Abio sering mengundang artis nasional dan internasional untuk menghibur masyarakat setempat. Beberapa di antaranya adalah Lia Camella, Winda Saskia, dan artis lokal seperti Tonny Pereira dan Chico Ramelau. "Impian utama saya adalah membangun desa saya menjadi hijau, bersih, tertib, dan bebas dari konflik," tegasnya.
Abio juga bercita-cita untuk mengajak beberapa aktor film dari Jakarta untuk berkunjung ke Asumano, berbagi pengalaman, dan mungkin melakukan syuting di sana. "Lokasinya sangat tenang dan hijau, cocok untuk pembuatan film," katanya.
Selain itu, Abio bertekad untuk mengangkat musik tradisional distrik Liquica ke kancah dunia. "Kita harus melestarikan musik tradisional agar tidak hilang dan didominasi oleh musik modern," tutupnya.
Dengan semangat dan dedikasi tinggi, Abio Salsinha terus berusaha memperkenalkan dan mengembangkan desanya, Asumano, agar semakin dikenal dan dicintai, baik oleh masyarakat lokal maupun internasional.