LAGOS – Di balik gedung pencakar langit dan proyek properti mewah di Lagos, Nigeria, terdapat sebuah komunitas terapung bernama Makoko yang hidup dalam bayang-bayang pembangunan modern. Ribuan warga tinggal di rumah kayu rapuh di atas laguna tercemar, tanpa akses layak terhadap air bersih, pendidikan, maupun perlindungan hukum yang memadai.
Makoko dikenal sebagai kawasan permukiman terapung terbesar di Lagos. Meski hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat bisnis dan kawasan elite seperti Victoria Island, komunitas ini nyaris tak tercatat dalam dokumen resmi kota. Banyak warganya bahkan tidak memiliki akta kelahiran, alamat resmi, atau dokumen legal yang mengakui keberadaan mereka.
Kawasan yang telah ada sejak abad ke-19 itu awalnya dibangun oleh komunitas nelayan Egun dan Yoruba. Hingga kini, sebagian besar aktivitas warga masih bergantung pada air. Kano menjadi alat transportasi utama, sementara rumah-rumah berdiri di atas tiang kayu yang rawan roboh diterjang badai dan banjir.
Kondisi kehidupan di Makoko digambarkan sangat memprihatinkan. Sebagian besar warga menggunakan air laguna yang tercemar untuk mandi, mencuci, memasak, bahkan minum. Limbah rumah tangga dan kotoran manusia langsung mengalir ke perairan yang sama tempat anak-anak berenang dan nelayan mencari ikan.
Akibatnya, berbagai penyakit seperti infeksi kulit, diare, kolera, hingga gangguan pernapasan menjadi ancaman sehari-hari. Namun akses layanan kesehatan sangat terbatas karena banyak keluarga hidup dengan penghasilan kurang dari dua dolar AS per hari.
Anak-anak di Makoko juga menghadapi masa depan yang suram. Banyak dari mereka tidak bisa bersekolah karena biaya pendidikan, minimnya fasilitas, dan ketiadaan dokumen resmi. Sejak usia dini, anak-anak sudah membantu orang tua mencari nafkah dengan mendayung kano, menjual barang, atau menangkap ikan di laguna.
Pada 2013, dunia sempat menaruh harapan melalui proyek sekolah terapung Makoko yang dirancang ramah lingkungan. Namun bangunan tersebut roboh pada 2016 akibat hujan deras dan kurangnya perawatan. Sejak itu, pendidikan di kawasan tersebut lebih banyak ditopang relawan dan organisasi sosial dengan fasilitas terbatas.
Selain kemiskinan dan polusi, ancaman penggusuran menjadi ketakutan terbesar warga. Pada 2012, ratusan rumah dirobohkan dalam operasi pembongkaran yang membuat lebih dari 3.000 orang kehilangan tempat tinggal hanya dalam waktu sehari. Pemerintah menyebut kawasan itu sebagai permukiman ilegal, sementara warga menilai penggusuran dilakukan demi proyek pembangunan dan investasi properti.
Di tengah kondisi sulit tersebut, solidaritas warga menjadi penopang utama kehidupan. Tetangga saling membantu membangun rumah yang rusak, berbagi air, hingga mengumpulkan uang untuk membeli obat bagi warga sakit. Gereja dan masjid berdiri di atas air sebagai pusat harapan sekaligus pengikat komunitas.
Makoko kini menjadi simbol kontras tajam antara pertumbuhan kota modern dan kemiskinan urban yang terabaikan. Di satu sisi Lagos terus membangun gedung mewah dan kawasan bisnis baru, sementara di sisi lain ribuan warga masih hidup tanpa kepastian masa depan.
Kisah Makoko memunculkan pertanyaan besar tentang arah pembangunan kota modern: apakah sebuah kota benar-benar bisa disebut maju jika masyarakat termiskinnya terus tersingkir dan nyaris dihapus dari peta kehidupan kota itu sendiri?
Artikel Terkait
Elsa Mamasa Tereliminasi di Top 10 The Icon Indonesia, Sampaikan Pesan Haru untuk Semua Pendukung
MELONii Tancap Gas Lewat “GASSO”, Suguhkan Energi Balap dan Cinta dalam Nuansa Tokyo yang Futuristis
“How to Rob a Bank” Hadirkan Aksi Perampokan Viral yang Bikin FBI Kewalahan
Penampilan Hallway Tuai Pujian dan Emosi di Band Academy Indosiar, Aisyah Dapat Dukungan Penuh dari Juri dan Sang Ibu