Calon Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rafael Mariano Grossi, menyampaikan pandangan dan visinya usai berdialog selama tiga jam dengan negara-negara anggota Majelis Umum PBB. Dalam pernyataannya kepada media, Grossi menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan diplomasi global di tengah kompleksitas tantangan internasional.
Grossi menyebut pertemuan tersebut sebagai kesempatan penting untuk mendengarkan langsung kekhawatiran negara anggota sekaligus menjelaskan arah kepemimpinannya. Ia mengaku menerima sejumlah pesan kunci yang akan menjadi dasar pendekatannya jika terpilih sebagai Sekjen PBB.
Terkait situasi geopolitik, Grossi menyoroti pentingnya keberlanjutan proses gencatan senjata dengan Iran. Ia menekankan bahwa isu tersebut tidak hanya berkaitan dengan nuklir, tetapi juga mencakup stabilitas kawasan, termasuk keamanan Selat Hormuz dan isu rudal balistik. Menurutnya, peluang perdamaian harus terus dijaga di tengah situasi yang masih rapuh.
Dalam hal krisis likuiditas yang tengah dihadapi PBB, Grossi menegaskan bahwa solusi utama berada di tangan negara-negara anggota, khususnya para kontributor utama. Meski demikian, ia optimistis momentum kepemimpinan baru pada awal tahun mendatang dapat membuka ruang dialog yang lebih konstruktif guna memperbaiki kondisi keuangan organisasi.
Menanggapi pertanyaan tentang keseimbangan antara negara besar dan kecil, Grossi menyebut hal tersebut sebagai inti dari diplomasi. Ia menilai PBB harus tetap menjadi wadah inklusif yang mampu mengakomodasi kepentingan semua pihak, terutama negara berkembang yang sangat bergantung pada dukungan organisasi tersebut.
Grossi juga mengakui adanya krisis kepercayaan terhadap PBB, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan komitmennya untuk membangun kembali kepercayaan tersebut melalui keterlibatan langsung dan pendekatan yang lebih manusiawi. “Kehadiran nyata dan kepedulian dapat menjadi awal pemulihan kepercayaan,” ujarnya.
Sebagai Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency saat ini, Grossi menekankan pentingnya peran lembaga tersebut dalam setiap kesepakatan nuklir, termasuk potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menegaskan bahwa verifikasi oleh IAEA menjadi kunci agar kesepakatan tidak sekadar simbolis.
Dalam menjawab pertanyaan tentang kepemimpinan, Grossi menekankan pentingnya sikap imparsial. Ia menilai Sekjen PBB harus mampu membedakan benar dan salah sesuai Piagam PBB, namun tetap diterima oleh semua pihak sebagai mediator yang adil.
Saat ditanya figur panutan, Grossi menyebut sejumlah mantan Sekjen seperti Dag Hammarskjöld, U Thant, dan Kofi Annan sebagai inspirasi dalam menjaga perdamaian dunia. Ia juga menyinggung kontribusi tokoh lain seperti Ban Ki-moon dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan.
Mengakhiri pernyataannya, Grossi menegaskan bahwa jabatan Sekretaris Jenderal membutuhkan keseimbangan antara peran administratif dan kepemimpinan global. Ia pun berharap dapat meraih dukungan luas dari seluruh negara anggota dalam pencalonannya.
Artikel Terkait
Bahía Miami Swim Week Tampilkan Energi Runway Penuh Gaya dan Ekspresi Musim Panas
HIRAIDAI Hadirkan Versi Hangat “Baby Shark”, Sentuhan Baru untuk Lagu Ikonik Keluarga
AS Setujui Jet Tempur Generasi Baru F-47, Siap Gantikan Dominasi F-22
Kim Kardashian dan Lewis Hamilton Pamer Kemesraan di Pantai Malibu, Hubungan Kian Serius