• Jum'at, 17/04/2026
Harga Tiket Pesawat Domestik Naik hingga 13 Persen, Dampak Lonjakan AFTUR Akibat Gejolak Timur Tengah Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

LSF Dorong Literasi Sensor Mandiri di Hari Film Nasional ke-76

- Rabu, 01/04/2026

Jakarta, 1 April 2026 — Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Dr. Naswardi, menegaskan pentingnya penguatan literasi tontonan dan budaya sensor mandiri dalam momentum peringatan Hari Film Nasional ke-76 yang jatuh pada 30 Maret 2026.

Dalam acara yang digelar di CGV Grand Indonesia, Rabu (1/4), Naswardi menyampaikan bahwa perkembangan perfilman nasional saat ini menunjukkan tren positif, baik dari sisi kualitas maupun apresiasi penonton.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Fatlizon, M.Sc., Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, sineas Joko Anwar, serta sejumlah perwakilan komunitas film dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek.

Dalam sambutannya, Naswardi menekankan pentingnya menghubungkan sejarah perfilman Indonesia dengan perkembangan era modern. Ia menyoroti karya monumental dari Usmar Ismail sebagai tonggak penting yang terus relevan hingga saat ini.

“Film Darah dan Doa yang diproduksi pada 1950 kini telah direstorasi dan kembali dapat dinikmati masyarakat. Ini adalah bagian dari upaya melindungi artefak budaya dan warisan perfilman nasional,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi Kementerian Kebudayaan, Cinematek, dan berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam proses restorasi film tersebut. LSF, lanjutnya, bahkan telah kembali menerbitkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) untuk film tersebut dengan klasifikasi usia 17 tahun ke atas.

Selain itu, Naswardi mengungkapkan bahwa pihaknya terus mendorong Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, yakni ajakan kepada masyarakat untuk menonton film sesuai dengan klasifikasi usia yang telah ditetapkan.

“Ini bagian dari literasi film yang penting, agar film anak dapat dinikmati secara tepat dan film dewasa tidak disalahgunakan penontonannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa capaian positif juga terlihat dari film-film Lebaran tahun ini, di mana setidaknya tiga judul telah meraih lebih dari satu juta penonton. Hal ini menjadi sinyal kuat kebangkitan perfilman nasional.

“Dengan sinergi semua pihak, kami optimistis film Indonesia akan terus berprestasi, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga regional dan global,” tutupnya.

Tags

Artikel Terkait

Terkini