• Jum'at, 17/04/2026
Harga Tiket Pesawat Domestik Naik hingga 13 Persen, Dampak Lonjakan AFTUR Akibat Gejolak Timur Tengah Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

JUAL JIWA DEMI HARTA, CERITA DEKAT DENGAN REALITA

- Jum'at, 27/03/2026

LJakarta, 27 Maret 2026 – Film horor Aku Harus Mati arahan sutradara Hestu Saputra mengangkat keresahan sosial yang kian nyata di tengah masyarakat, mulai dari jeratan pinjaman online (pinjol) hingga praktik “jual jiwa demi harta”.

Hestu mengungkapkan bahwa film ini lahir dari kegelisahan pribadi sekaligus fenomena sosial yang ia amati secara langsung. “Sekarang ini kita hidup di era di mana teror-teror seperti pinjol seolah dinormalisasi. Orang jadi menganggap itu hal biasa, padahal dampaknya besar, baik secara mental maupun sosial,” ujar Hestu saat ditemui dalam jumpa pers di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (26/3).

Ia menjelaskan, proses riset dan observasi dilakukan di berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan bawah hingga atas. Menurutnya, praktik “menjual jiwa demi harta” hadir dalam banyak bentuk—tidak selalu mistis, tetapi juga melalui keputusan hidup yang mengorbankan nilai dan kemanusiaan.

Fenomena utang yang kian marak, khususnya akibat pinjol dan cicilan, menjadi salah satu benang merah cerita. Hestu menyoroti bagaimana banyak orang terjebak dalam situasi finansial tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. “Berutang itu seperti jadi hal biasa sekarang, tapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Dari situ muncul tekanan, bahkan keputusan ekstrem,” katanya.

Tak hanya sisi realistis, film ini juga menyentuh aspek mistis yang masih dipercaya di sejumlah daerah. Hestu mengaku menemukan berbagai cerita tentang praktik pesugihan, tumbal, hingga ritual di tempat-tempat tertentu seperti kawasan Gunung Kawi. “Cerita-cerita seperti tumbal di perempatan atau praktik mistis itu masih ada. Mungkin di kota besar seperti Jakarta tidak terlihat, tapi di daerah masih sering terjadi,” ungkapnya.

Meski mengusung tema horor, Aku Harus Mati bukan sekadar film menakut-nakuti. Film ini justru mengajak penonton untuk lebih peka dan tidak menormalisasi kekerasan, tekanan sosial, maupun sistem yang merugikan individu.

Dalam proses produksi, Hestu bekerja sama dengan tim kreatif yang solid sejak awal pengembangan proyek. Ia juga memberikan ruang besar bagi para pemain untuk membangun karakter secara mendalam.

“Saya hanya mengarahkan, tapi para aktor seperti Prasetya Agn (Nugra), Hana Saraswati (Mala), dan Amara Sophie (Tiwi) punya peran besar dalam menghidupkan karakter dan menyampaikan ‘roh’ cerita ini,” jelasnya.

Dengan perpaduan horor, kritik sosial, dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Aku Harus Mati diharapkan tidak hanya menghadirkan ketegangan, tetapi juga menjadi refleksi bagi penonton terhadap realitas yang kerap luput dari perhatian.

Selaras dengan Link Group International yang mengedepankan strategi promosi berbasis data konsumen, Rollink Action turut menghadirkan karya dengan pendekatan audience point of view, sehingga cerita terasa lebih dekat dan relevan bagi penikmat film Indonesia.

Tags

Artikel Terkait

Terkini