Jakarta — Program Akademi Sahur Indonesia (AKSI) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu tayangan dakwah unggulan selama Ramadan. Hal tersebut disampaikan dalam perbincangan antara Ustadz Subki dan Direktur SCM, Harsiwi Achmad, yang menyoroti perjalanan panjang AKSI dalam menghadirkan dakwah berkualitas sekaligus meraih berbagai penghargaan.
Ustadz Subki mengungkapkan rasa syukur karena AKSI hampir setiap tahun mendapatkan apresiasi, meski dengan kategori yang berbeda-beda. Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai bentuk kepercayaan publik terhadap konsistensi dan kualitas program dakwah yang dihadirkan.
“Alhamdulillah, AKSI hampir setiap Ramadan selalu mendapatkan penghargaan. Artinya, kepercayaan itu masih ada dan terus terjaga,” ujar Ustadz Subki.
Tahun ini, AKSI kembali menghadirkan wajah-wajah baru serta deretan pendakwah berpengalaman. Selain kehadiran Syekh Aziz yang akan menyampaikan kultum, Ustadz Solmed juga disebut kembali terlibat, bersama sejumlah nama yang lahir dan berkembang dari panggung AKSI, seperti Ustadz Andi Alang, Ustadz Dodi, dan Ustadz Dion. Bahkan, kontribusi AKSI disebut telah meluas hingga program lain seperti Mentari dan sinetron religi.
Harsiwi Achmad menambahkan, kekuatan AKSI terletak pada keberanian tim kreatif menghadirkan terobosan yang kerap tak terpikirkan sebelumnya, namun justru menjadi daya tarik utama. Menurutnya, ceramah di jam sahur yang awalnya dianggap menantang, justru mendapat sambutan hangat dari masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk kalangan akademisi.
“Responsnya luar biasa, dari ujung barat sampai timur Indonesia. Bahkan ada profesor yang tertarik ikut terlibat sebagai juri tamu,” ungkap Harsiwi.
Antusiasme terhadap AKSI juga terlihat dari jumlah pendaftar yang terus meningkat. Tahun ini, tercatat sekitar 1.500 peserta mengikuti audisi, termasuk ustadz-ustadz berpengalaman, bahkan ada yang telah berhaji dan menempuh pendidikan hingga jenjang S3. AKSI juga bekerja sama dengan PBNU serta pesantren-pesantren NU di seluruh Indonesia, memperluas jangkauan dakwah dan regenerasi pendakwah muda.
Ustadz Subki menjelaskan bahwa AKSI tidak semata mencari pemenang, melainkan menggali potensi dakwah yang beragam, mulai dari tabligh, ceramah umum, khutbah, hingga motivasi. Setiap peserta dinilai memiliki keunggulan masing-masing, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an, menyampaikan pesan dengan empati, hingga membangun kedekatan dengan jamaah.
Lebih dari sekadar kompetisi, AKSI disebut sebagai proses penggemblengan. Para peserta dibekali pengalaman, kepercayaan diri, dan keterampilan berdakwah melalui konsep Pesantren AKSI, sebelum kembali ke daerah masing-masing untuk memberi kontribusi positif bagi masyarakat.
“Ini bukan soal juara, tapi bagaimana para ustadz itu kembali ke daerahnya dengan bekal yang lebih kuat,” ujar Harsiwi.
Dengan konsep tersebut, AKSI diharapkan kembali menghadirkan tayangan yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan, serta terus melahirkan pendakwah yang memberi manfaat nyata bagi umat dan bangsa.
Artikel Terkait
“Dilan ITB 1997” Hadirkan Nuansa Baru, Ariel Noah Bawa Emosi Cinta dan Reformasi
Keajaiban Dunia Burung: Dari “Penjaga Savana” hingga “Penjahit Daun”
Panna Udvardy Melaju ke Final Dramatis, Singkirkan Emiliana Arango Lewat Duel Epik
Ultimatum 48 Jam Donald Trump: Ketegangan AS–Israel dan Iran Memuncak