• Selasa, 10/02/2026
Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 menjadi panggung bagi sejumlah brand otomotif di JAkarta Internasional Expo Kemayoran Jakarta Pusat Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Chongqing, Kota Vertikal yang Hidup Bersama Lereng

- Minggu, 25/01/2026
CNA

Chongqing dikenal dunia lewat hotpot pedas dan lanskap futuristik yang kerap viral di media sosial. Gedung-gedung bertingkat yang tampak bertumpuk di atas perbukitan menciptakan ilusi kota masa depan yang membingungkan mata. Namun di balik panorama dramatis itu, Chongqing adalah rumah bagi jutaan orang yang menjalani kehidupan sehari-hari dalam irama medan yang curam.

Di kota yang dibangun di atas bukit dan pegunungan ini, ketinggian bukan sekadar pemandangan, melainkan bagian dari rutinitas. Xu, 63 tahun, adalah salah satu dari sedikit porter yang masih bertahan. Warga setempat mengenalnya sebagai bang bang jun—para pengangkut barang yang memikul beban menggunakan bambu panjang di bahu mereka. Kini, Xu lebih sering mengangkut barang grosir antar lokasi untuk keperluan pengemasan dan pengiriman.

Namun seiring membaiknya kondisi jalan dan meluasnya layanan antar hingga ke depan pintu, kebutuhan akan bang bang jun terus menurun. Minimnya generasi muda yang mau meneruskan profesi ini membuat pekerjaan tersebut perlahan menghilang dari denyut kota.

Bagi pendatang, Chongqing kerap terasa membingungkan. Gong Yupeng, 28 tahun, menyebut dirinya “pria Shandong yang berubah menjadi menantu Chongqing”. Ia pindah ke kota ini satu setengah tahun lalu demi mengikuti pasangannya, dan kini mereka telah memiliki rumah sendiri. Meski demikian, adaptasi sejak awal bukan perkara mudah, terutama menghadapi struktur kota yang bertingkat-tingkat tanpa pola datar yang lazim.

Di Desa Gangfeng, salah satu kawasan permukiman lama terakhir di Distrik Jiangbei, Chen Hao, 63 tahun, tinggal di lantai tiga sebuah bangunan tanpa lift. Tangga itu telah ia naiki selama puluhan tahun. Chen Hao dan ayahnya menetap di Chongqing sejak era 1960-an, menyaksikan langsung perubahan kota dari waktu ke waktu—dari lingkungan sederhana hingga metropolis modern yang menjulang.

Bagi para warga, lanskap berbukit Chongqing bukanlah beban, melainkan sesuatu yang dipelajari untuk diterima dan dijalani. Sementara bagi para arsitek, kontur ekstrem kota ini adalah teka-teki yang menantang. Li Weitao, arsitek yang telah lebih dari satu dekade merancang bangunan di Chongqing, melihat kota ini dari ketinggian sebagai satu kesatuan yang utuh. Dari atas, apa yang terasa semrawut di permukaan tanah justru tampak selaras.

Ini bukan kekacauan, melainkan koreografi—sebuah kota yang bergerak seirama dengan bentang alamnya. Di Chongqing, kehidupan vertikal bukan soal sensasi atau skala megah. Ia adalah tentang adaptasi, dibentuk oleh tanah tempat kota ini berdiri, dan oleh orang-orang yang belajar menyebutnya rumah, setingkat demi setingkat.

Tags

Artikel Terkait

Terkini