• Selasa, 10/02/2026
Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 menjadi panggung bagi sejumlah brand otomotif di JAkarta Internasional Expo Kemayoran Jakarta Pusat Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Elon Musk Bicara AI dan Masa Depan Peradaban: “Kesadaran Itu Seperti Lilin Kecil di Tengah Kegelapan”

- Jum'at, 23/01/2026
Elon Muks ( Global News )

Elon  Musk kembali menyampaikan pandangannya mengenai kecerdasan buatan (AI), robotika, dan masa depan umat manusia. Dalam sebuah perbincangan panjang, CEO SpaceX dan Tesla itu menegaskan bahwa tujuan utama seluruh perusahaannya adalah memaksimalkan peluang peradaban manusia agar memiliki masa depan yang besar dan berkelanjutan.

“Tujuan keseluruhan perusahaan saya adalah memaksimalkan masa depan peradaban, meningkatkan kemungkinan bahwa peradaban memiliki masa depan yang hebat, serta memperluas kesadaran melampaui Bumi,” ujar Musk.

Menurutnya, SpaceX dibangun untuk mengembangkan teknologi roket hingga memungkinkan kehidupan dan kesadaran manusia meluas ke Bulan, Mars, bahkan ke sistem bintang lain. Musk menilai kehidupan sebagai sesuatu yang sangat rapuh dan langka di alam semesta.

“Kita tidak tahu adanya kehidupan di tempat lain. Bisa jadi kehidupan dan kesadaran ini sangat langka, mungkin hanya kita,” katanya. Ia menggambarkan kesadaran manusia seperti “sebuah lilin kecil di tengah kegelapan luas” yang bisa padam kapan saja jika tidak dijaga.

Karena itu, Musk menekankan pentingnya menjadikan manusia sebagai spesies multi-planet. Dengan demikian, jika terjadi bencana alam atau buatan manusia di Bumi, kesadaran tetap dapat bertahan melalui koloni luar angkasa, robotika, dan AI.

AI dan Robotika sebagai Jalan Menuju Kelimpahan

Musk optimistis AI dan robotika merupakan kunci untuk menciptakan kelimpahan global dan meningkatkan standar hidup semua orang. Namun, ia juga mengingatkan agar pengembangannya dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Kita tidak ingin hidup di dunia seperti film Terminator,” ujarnya sambil bercanda, merujuk pada film karya James Cameron.

Dalam skenario positif, Musk memprediksi AI dan robot akan berkembang begitu pesat hingga mampu memenuhi seluruh kebutuhan manusia. Ia bahkan memperkirakan setiap orang di Bumi suatu hari akan memiliki robot humanoid pribadi.

“Siapa yang tidak ingin robot yang aman untuk menjaga anak, merawat hewan peliharaan, atau membantu orang tua lanjut usia?” katanya. Menurut Musk, robot dapat menjadi solusi atas mahalnya biaya perawatan lansia dan minimnya tenaga kerja muda.

Mobil Otonom, Robot Humanoid, dan AI Supercerdas

Musk mengklaim bahwa teknologi mobil swakemudi pada dasarnya sudah “terpecahkan”. Tesla, kata dia, telah mulai meluncurkan layanan robotaksi di beberapa kota di Amerika Serikat dan menargetkan ekspansi luas pada akhir tahun ini. Persetujuan untuk sistem full self-driving yang diawasi di Eropa dan China juga diharapkan segera menyusul.

Ia bahkan memprediksi AI yang lebih cerdas dari manusia individu bisa hadir pada akhir tahun ini atau paling lambat tahun depan. “Pada 2030 atau 2031, AI kemungkinan akan lebih pintar daripada seluruh umat manusia secara kolektif,” ujarnya.

Tesla juga menargetkan penjualan robot humanoid ke publik mulai tahun depan, setelah mencapai tingkat keselamatan dan keandalan yang sangat tinggi.

Energi Surya dan Masa Depan Bumi

Terkait energi, Musk menyebut bahwa kebutuhan listrik Amerika Serikat sebenarnya bisa dipenuhi hanya dengan memanfaatkan sebagian kecil wilayah seperti Nevada atau New Mexico untuk ladang surya. Namun, tarif dan hambatan perdagangan membuat pengembangan energi surya menjadi mahal.

Meski begitu, tim Tesla dan SpaceX disebut sedang mengembangkan kapasitas produksi hingga 100 gigawatt energi surya per tahun di AS.

Mars, Alien, dan Makna Kehidupan

Soal alien, Musk mengaku skeptis. Dengan sekitar 9.000 satelit di orbit, ia mengatakan belum pernah sekali pun harus menghindari pesawat alien. Namun, ia tetap terbuka pada kemungkinan adanya peradaban alien yang sudah lama punah.

Musk juga mengungkap ketertarikannya pada filosofi rasa ingin tahu—memahami makna kehidupan, awal dan akhir alam semesta, serta pertanyaan-pertanyaan yang bahkan belum terpikirkan manusia. Menurutnya, AI akan membantu manusia menjawab hal-hal tersebut.

Ketika ditanya apakah ia ingin pergi ke Mars, Musk menjawab santai, “Ya. Saya tidak keberatan meninggal di Mars, asal jangan saat mendarat.”

Ia menutup dengan optimisme bahwa manusia saat ini hidup di masa paling menarik dalam sejarah, dengan peluang besar menuju masa depan yang penuh kelimpahan dan eksplorasi antarbintang.

Tags

Artikel Terkait

Terkini