JAKARTA — Presiden Republik Indonesia memutuskan menambah anggaran riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun yang akan dialokasikan dalam APBN 2026. Kebijakan ini diambil setelah Presiden memberikan taklimat khusus kepada para rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, keputusan tersebut menyusul laporan bahwa dana riset perguruan tinggi saat ini hanya mencapai sekitar Rp8 triliun atau setara 0,34 persen dari total APBN. Menurut Presiden, angka itu belum memadai untuk mendorong kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.
“Presiden menegaskan riset harus diarahkan pada kepentingan strategis bangsa, terutama untuk mengejar swasembada pangan, swasembada energi, serta mendukung industrialisasi dan hilirisasi nasional,” ujar Prasetyo kepada awak media.
Penguatan riset perguruan tinggi ke depan juga akan dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan penekanan pada penguasaan sains dan teknologi yang dibutuhkan industri.
Selain sektor riset, Presiden turut menyoroti akses pendidikan tinggi. Dari sekitar 9,9 juta mahasiswa aktif di Indonesia, baru sekitar 1,1 juta yang menerima beasiswa, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP). Presiden pun menginstruksikan agar skema beasiswa dievaluasi dan diperluas agar menjangkau lebih banyak mahasiswa.
Presiden juga mengarahkan agar alokasi beasiswa LPDP lebih difokuskan pada bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Bahkan, Presiden berharap porsi beasiswa LPDP untuk STEM dapat melampaui 80 persen guna mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam taklimat tersebut, Presiden turut menyinggung isu geopolitik secara umum dengan menekankan pentingnya kemandirian nasional. Ia menilai peran rektor, guru besar, dan civitas akademika sangat strategis dalam mendorong inovasi untuk mewujudkan kemandirian pangan, energi, dan teknologi, termasuk pengembangan mobil nasional.
Di bidang kesehatan, Presiden menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter, dokter gigi, dan tenaga kesehatan berbasis teknologi. Pemerintah berencana memperbesar daya tampung fakultas kedokteran dan pendidikan dokter spesialis, sekaligus membuka fakultas kedokteran baru di sejumlah wilayah. Program tersebut direncanakan menggunakan skema beasiswa penuh.
Pemerintah juga tengah membentuk tim lintas kementerian yang dipimpin Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk menata ulang ekosistem pendidikan tinggi agar lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan program prioritas nasional.
“Perguruan tinggi sangat terbuka dalam memberikan masukan kepada pemerintah. Setiap usulan dari kampus akan kami terima dan tindak lanjuti,” tutup Prasetyo.
Artikel Terkait
Huawei Pura X2 Muncul dari Aksesori Pihak Ketiga
Spanyol Tumbangkan Prancis 5-4 dalam Laga Klasik Sembilan Gol
Jerman vs Portugal Berlangsung Sengit, Florian Wirtz Buka Keunggulan di Babak Kedua
Taylor Swift Digugat Terkait Judul Album “The Life of a Showgirl”