Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Ketika Gitaris Tak Lagi Jadi Komisaris: Musik sebagai Satir Kekuasaan

- Minggu, 04/01/2026

Sebuah karya musik berjudul “Ketika Gitaris Tak Lagi Jadi Komisaris” mencuri perhatian publik karena liriknya yang tajam, satiris, dan sarat kritik sosial. Lagu ini menyoroti ironi perubahan sikap seorang figur perlawanan yang perlahan meninggalkan idealisme ketika masuk ke lingkaran kekuasaan.

Lewat narasi lugas dan metafora keras, lagu ini menggambarkan sosok yang dahulu lantang menyuarakan perubahan dari atas panggung, dengan gitar sebagai simbol perjuangan. Namun seiring waktu, gitar disimpan, digantikan kursi jabatan dan kepentingan pribadi. Disiplin berubah menjadi kepatuhan, kritik berganti pembenaran.

Lirik-lirik seperti “Dulu teriak soal perubahan, sekarang sibuk hitung jatah makan” dan “Jabatan habis, idealisme pergi” menjadi potret getir tentang bagaimana kekuasaan dapat menggerus nurani. Musik ini seolah menampar realitas bahwa loyalitas sering kali bertahan hanya selama kepentingan terpenuhi.

Karya ini juga menegaskan bahwa isu utama bukan sekadar soal musik atau profesi, melainkan tentang kursi, jabatan, dan kompromi moral. Tepuk tangan yang muncul di sela-sela musik memperkuat kesan bahwa pesan ini ditujukan untuk publik luas—sebagai refleksi bersama, bukan tudingan personal.

Dengan pendekatan spoken word yang berpadu dengan musik, lagu ini melanjutkan tradisi musik kritik sosial yang berani, mengingatkan bahwa panggung perlawanan tak selalu runtuh oleh represi, tetapi kadang oleh kenyamanan.

Di tengah maraknya musisi yang terlibat dalam kekuasaan dan industri, “Ketika Gitaris Tak Lagi Jadi Komisaris” hadir sebagai pengingat keras: ketika idealisme ditukar jabatan, suara perlawanan pun perlahan menghilang.

Tags

Artikel Terkait

Terkini