Ajang Timor Leste Music Award (TLMA) 2025 yang digelar di Dili pada Minggu, 28 Desember 2025, kembali menjadi momentum penting bagi perkembangan industri musik di Timor Leste. Musisi senior Abio Salsinha menilai penyelenggaraan tahun kedua ini berjalan cukup baik meski masih membutuhkan sejumlah pembenahan.
Menurut Abio, TLMA memiliki peran besar dalam memperkenalkan musik hingga ke pelosok pedesaan. Ia mengaku bangga karena musik Timor Leste kini semakin dikenal luas, termasuk oleh anak-anak di daerah terpencil.
“Ke mana-mana, anak-anak dari pedesaan pelosok bisa tahu musik itu. Nah, itu yang saya banggakan,” ujar Abio.
Abio menjelaskan, TLMA pertama kali digelar pada 2024 dengan berbagai kendala, namun tetap berjalan sukses dan bahkan dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Timor Leste saat itu, Xanana Gusmão. Pada edisi 2025, ajang ini kembali mendapat dukungan penuh dari pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Seni dan Budaya, termasuk kehadiran para menteri, sponsor, serta penampilan tarian budaya khas Timor Leste.
Ia menambahkan, misi utama penyelenggara (Almomor) adalah memberikan penghargaan kepada musisi dari berbagai era, mulai dari masa Portugis, Indonesia, hingga era kemerdekaan. Artis senior dan junior hadir bersama dalam satu panggung perayaan musik nasional.
Meski ikut mendaftar, Abio mengaku tidak masuk dalam nominasi tahun ini. Namun hal tersebut tidak membuatnya kecewa. Ia justru menegaskan pentingnya memberi ruang lebih luas bagi generasi muda.
“Saya support adik-adik junior untuk melanjutkan misi kami yang senior. Jadi artis itu harus punya karya sendiri, jangan hanya main cover. Minimal punya satu dua lagu sendiri supaya namanya terangkat,” tegasnya.
Abio juga mengusulkan agar ke depan kategori artis senior dan junior dipisahkan, serta sistem voting dibuat lebih transparan dan bisa diakses publik, terutama masyarakat pedesaan. Ia menyarankan kerja sama dengan operator telekomunikasi agar proses voting mudah dipahami dan diikuti masyarakat luas.
“Terkadang masyarakat bertanya, voting itu lewat apa? Mereka tidak tahu. Ke depan ini perlu diperbaiki,” ujarnya.
Dalam TLMA 2025, sejumlah musisi junior seperti Maria Victoria berhasil meraih penghargaan, sementara perwakilan artis senior seperti Anovical juga mendapat apresiasi. Abio mengaku bangga melihat keberagaman talenta yang diakui, termasuk musisi dengan keterbatasan fisik.
Ia juga menyebut sejumlah musisi senior yang sangat ia banggakan, seperti Tony Pereira, Zinuda Costa, Anitu Matus, Alex Samurai, Aida Belo, hingga almarhum Siku Muhuhi. Sementara dari kalangan junior, ia menyoroti nama-nama yang sedang naik daun seperti Maria Victoria, Crimson Pa, serta grup band Anar Band dan Arkiris Band.
Abio menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi musisi muda, termasuk membuka jejaring kerja sama dengan Indonesia. Ia mengaku siap mendatangkan musisi dan figur seni dari Indonesia untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan kualitas talenta lokal.
Lebih jauh, mimpi besarnya adalah mempromosikan musik Tetun sebagai identitas khas Timor Leste ke panggung internasional. Ia mencontohkan lagunya yang dinyanyikan Fanny Fabiola dan kini semakin populer sebagai bukti musik Timor Leste bisa diterima luas.
“Musik Tetun punya genre sendiri. Itu mimpi saya dari dulu, membawa musik Timor Leste ke dunia,” katanya.
Menilai perjalanan TLMA sejauh ini, Abio memberikan nilai sekitar 75 hingga 80 persen. Ia menekankan pentingnya keterbukaan terhadap kritik agar ajang ini terus berkembang.
“Setiap ajang pasti ada kesalahan dan kritik. Yang penting kita punya hati besar untuk menerima dan memperbaiki diri supaya ke depan lebih baik lagi,” pungkas Abio.
Artikel Terkait
TNI AL Bongkar Dugaan Peredaran Senjata Api Ilegal di Bali, Satu Orang Diamankan
Indosiar Sambut Ramadan 1447 H dengan Program Dakwah dan Hiburan Unggulan
U23 Vietnam Raih Medali Perunggu Asia Usai Tundukkan Korea Selatan Lewat Adu Penalti
Ferrari Resmi Meluncurkan SF-26, Awali Era Baru Formula 1 Musim 2026