Telah dibuka Grace Cafe dan Resto di Jalan Kemang X Jakarta Selatan Toko Obat Mutiara Sakti, ITC Permata Hijau Jakarta Selatan

Ekspedisi Mamberamo: Menyusuri Sungai Terpanjang di Papua, Menyaksikan Tradisi Berburu Buaya dan Rusa

- Sabtu, 27/09/2025
Ekspedisi Mamberamo: Menyusuri Sungai Terpanjang di Papua, Menyaksikan Tradisi Berburu Buaya dan Rusa
Tradisi berburu buaya dan rusa di Mamberamo bukan sekadar soal makanan. Ia adalah warisan turun-temurun

Jayapura, 27 September 2025 – Papua bukan tanah kosong. Di balik hutan rimba, aliran sungai, dan lembah yang membentang luas, tersimpan kehidupan yang kaya: satwa liar, sungai yang menjadi sumber penghidupan, serta masyarakat adat yang sejak lama menjaga keseimbangannya. Itulah pesan utama yang tersirat dari ekspedisi tim dokumenter AWA saat menyusuri Sungai Mamberamo, sungai terpanjang di Papua.

Perjalanan dimulai dari Dabra menuju hulu Sungai Dorman, salah satu anak Mamberamo. Dengan sepeda motor, rombongan menembus jalur berbatu, melewati lembah hijau dan sungai-sungai kecil hingga tiba di Katire. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni lereng menuju tepian sungai. Suasana hening hanya dipecah suara serangga dan gemericik air.

Tak berhenti di situ, perjalanan berlanjut dengan perahu kecil menyusuri Mamberamo. Sinar matahari siang menyengat, namun angin sungai membawa kesejukan. Dari kejauhan, tampak tebing-tebing tinggi dan kawanan burung beterbangan. Di tepian pasir, buaya-buaya raksasa berjemur, sementara rusa-rusa muncul lalu lenyap di balik rimbun pepohonan.

Malam hari, giliran tradisi berburu dimulai. Dengan sorot senter menembus gelap, mata buaya berkilat di kejauhan. Upaya memburu rusa tak membuahkan hasil, namun seekor bangau berhasil ditangkap. Hingga akhirnya, tombak menancap tepat pada seekor buaya besar. Hewan itu ditarik ke darat, dipotong, lalu sebagian dagingnya diasap agar tahan lama. Kulitnya—dulu sempat jadi komoditas penting bagi masyarakat setempat—kini sudah tak lagi diperdagangkan sejak pandemi.

Tradisi berburu buaya dan rusa di Mamberamo bukan sekadar soal makanan. Ia adalah warisan turun-temurun, bagian dari identitas budaya masyarakat adat. Mereka berburu seperlunya, tetap menjaga keseimbangan alam, dan menghormati setiap hewan yang ditangkap.

“Sering kali orang luar salah paham. Mereka menganggap masyarakat Papua yang merusak hutan dengan berburu. Padahal, justru investor yang datang dengan menebang hutan dan membuka lahan besar-besaranlah yang membawa dampak jauh lebih besar,” jelas salah satu warga.

Dari Dabra, perjalanan dilanjutkan hingga ke Kasonaweja, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya. Untuk mencapai Jayapura, tim menumpangi kapal Cantika 77, menempuh total jarak sekitar 1.370 km—melewati sungai, laut, dan hutan belantara.

Ekspedisi ini bukan hanya catatan perjalanan, tapi juga pengingat: Papua adalah rumah bagi kehidupan. Setiap jengkal tanah, pohon, dan sungai memiliki makna, nilai, dan pemilik. “Papua bukan tanah kosong,” demikian semboyan yang terus digaungkan.

Tags

Artikel Terkait

Terkini