Jakarta – Sinetron Cinta Sedalam Rindu terus menjadi perbincangan hangat di kalangan penonton. Tiga bintang utama, Farhan Rasyid, Dannia Salsabilla, dan Esta Pramanita, mengungkapkan bagaimana mereka menjalani peran masing-masing sekaligus menanggapi komentar-komentar dari warganet.
Farhan mengaku dirinya bersama pemain lain selalu berusaha menampilkan akting terbaik meski alur cerita sering menuntut emosi yang cukup berat. “Kita memang benar-benar harus profesional. Kalau penulis cerita masih menempatkan karakter kita di situasi yang sulit, ya mau tidak mau harus dijalani. Kadang terasa susah juga, apalagi ketika karakter belum benar-benar move on. Itu bikin makin dalam rasanya,” ujarnya.
Sementara itu, Dannia Salsabilla mengungkapkan bahwa dirinya kerap membaca komentar penonton di media sosial. Menurutnya, masukan dan reaksi netizen menjadi bahan refleksi sekaligus semangat untuk terus mendalami peran. “Kadang ada komentar yang benar-benar nyentuh. Jadi kayak oh iya, ternyata penonton bisa nangkep detail emosi yang kita mainkan. Itu bikin makin semangat,” kata Dannia.
Hal senada juga disampaikan Esta Pramanita. Ia menilai komentar netizen yang peduli dengan jalan cerita maupun karakter justru membantunya untuk lebih memahami peran. “Ada aja yang kadang nyebelin, tapi banyak juga yang kasih insight. Itu bikin aku lebih mikir lagi, bagaimana cara membawakan karakter supaya lebih kuat,” jelas Esta.
Meski jalan cerita Cinta Sedalam Rindu kerap menimbulkan perdebatan di kalangan penggemar, ketiga pemain sepakat bahwa tantangan tersebut justru memperkuat chemistry mereka di layar kaca. “Akhirnya kita sama-sama belajar bareng, sama penonton juga, untuk menjalani perjalanan karakter ini,” tutup Farhan.
Artikel Terkait
Film “Mother Mary” Siap Tayang Spring 2026, Anne Hathaway Tampil dengan Sentuhan Musik Eksperimental
Honda Perkuat Honda HR-V dengan Teknologi Modern dan Fitur Serbaguna
Mercedes-Benz Tegaskan Filosofi Presisi: Detail Kecil Jadi Penentu Kemewahan
Hyundai Rayakan 40 Tahun di Amerika, Perkenalkan Konsep Pickup Tangguh “Boulder”