• Jum'at, 15/05/2026

Parade Militer di Beijing Jadi Sorotan Dunia: Xi Jinping, Putin, dan Kim Jong Un Tampil Bersama di Tiananmen

- Kamis, 04/09/2025
 Parade Militer di Beijing Jadi Sorotan Dunia: Xi Jinping, Putin, dan Kim Jong Un Tampil Bersama di Tiananmen
berbagai negara berkumpul untuk menyaksikan parade militer besar-besaran yang digelar di Lapangan Tiananmen ( Dok ANNNews )

Beijing – Suasana pagi buta di pusat ibu kota Tiongkok berubah menjadi panggung demonstrasi kekuatan militer dan diplomasi. Pada pukul 4 pagi waktu setempat, ratusan jurnalis dari berbagai negara berkumpul untuk menyaksikan parade militer besar-besaran yang digelar di Lapangan Tiananmen. Proses keamanan berlangsung ketat, mulai dari pengenalan wajah, pemeriksaan barang, hingga penutupan jalan raya untuk kendaraan sipil.

Sekitar pukul 08.00, para tamu negara mulai berdatangan. Tiga sosok yang paling menyedot perhatian adalah Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Ketiganya tampak berdampingan di panggung utama, sebuah simbol yang dinilai sebagai pesan kuat bahwa mereka tetap solid meski tekanan internasional meningkat.

Pameran Alutsista Canggih

Parade menampilkan lebih dari 100 jenis persenjataan, jumlah yang melonjak dua kali lipat dibanding satu dekade lalu. Beberapa di antaranya adalah:

Drone bawah laut berukuran raksasa yang diklaim mampu membawa hulu ledak nuklir.

Dua varian baru ICBM (rudal balistik antarbenua) dengan jangkauan lintas benua.

Rudal hipersonik “pembunuh kapal induk” yang untuk pertama kalinya dipamerkan.

Sistem peperangan elektronik untuk melawan drone dan serangan siber di medan perang modern.

Pengamat militer menilai, unjuk kekuatan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sinyal bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah siap menghadapi bentuk perang abad ke-21.

Diplomasi di Balik Parade

Selain aspek militer, parade juga menjadi ajang politik. Putin terlihat akrab berbincang dengan Xi, sementara Kim Jong Un diberi posisi terhormat sejajar dengan dua pemimpin besar itu. “China ingin menunjukkan bahwa mereka masih menjadi pusat gravitasi bagi Rusia dan Korea Utara, bahkan memperlakukan Pyongyang hampir setara dengan Moskow,” ujar seorang pakar hubungan internasional.

Kehadiran 26 kepala negara dan pemerintahan, mayoritas dari Asia, Afrika, dan negara berkembang yang mendapat dukungan infrastruktur dari Beijing, semakin menegaskan strategi diplomasi ekonomi Tiongkok. Namun, berbeda dengan 10 tahun lalu, tidak ada perwakilan dari negara G7 yang hadir tahun ini, mencerminkan ketegangan geopolitik yang kian tajam.

Pesan Politik Xi Jinping

Dalam pidato pembukaannya, Xi menekankan pentingnya perdamaian dan kerja sama global. Namun, pengamat menilai pesan itu kontras dengan kenyataan di lapangan: berdampingan dengan Putin, yang masih terlibat dalam perang di Ukraina, dan Kim, yang gencar memperluas kemampuan nuklir negaranya. CNN bahkan menyebut momen ini sebagai “kontradiksi visual”—pidato tentang perdamaian diapit oleh dua pemimpin yang dituduh memicu konflik.

Dampak Global

Profesor Atsugi Ichiro dari Universitas Kanda, Jepang, menilai parade ini akan semakin memperdalam jurang antara blok Barat dan aliansi Tiongkok-Rusia-Korut. “Seolah dunia kembali ke atmosfer Perang Dingin. Hubungan Tiongkok dengan Uni Eropa kemungkinan akan semakin memburuk setelah peristiwa ini,” ujarnya.

Dengan tekanan ekonomi domestik dan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat, Xi Jinping diperkirakan akan menggunakan kedekatan dengan Rusia dan Korea Utara sebagai kartu tawar dalam negosiasi, terutama terkait isu perdagangan dan tarif.

Parade yang berlangsung selama satu setengah jam ini akhirnya ditutup dengan pameran diplomasi tingkat tinggi, saat Putin dan Kim meninggalkan lokasi bersama-sama menuju pertemuan lanjutan dengan Xi.( ANN News)

Tags

Artikel Terkait

Terkini