Jakarta — Kepergian Afan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol) yang menjadi korban tabrakan kendaraan taktis (rantis) barakuda Brimob, meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya sesama ojol. Meski banyak yang tidak mengenalnya secara pribadi karena almarhum tergolong baru, namun tragedi ini justru mengikat solidaritas antar-driver di berbagai komunitas.
“Kalau untuk kenal secara pribadi memang tidak. Tapi kepergian beliau membuat kami jadi merasa dekat dan kehilangan,” kata Erna, salah satu rekan ojol yang turut hadir di rumah duka ditemui di Tendean 41 Jakarta Selatan, Rabu ( 3/8/2025).
Para sahabat ojol lain, seperti Omen dan Gito, mengaku kaget sekaligus kecewa mendengar kabar wafatnya Afan. “Kami semua kaget, apalagi dengan cara beliau pergi. Tapi kami percayakan semuanya pada jalur hukum,” ujar Omen.
Sejumlah rekan ojol juga ikut mengurus jenazah Afan sejak di RSCM hingga ke rumah duka. Mereka menyaksikan langsung kondisi almarhum sesaat setelah dinyatakan meninggal. “Waktu pertama dibawa ke IGD, masih sempat ada harapan. Tapi tak lama, hanya beberapa menit, dokter menyatakan beliau sudah tidak ada,” tutur Erna dengan mata berkaca-kaca.
Kabar duka ini cepat menyebar di grup WhatsApp komunitas ojol, membuat banyak rekan Afan tergerak turun langsung ke lapangan. Sayangnya, derasnya informasi simpang siur di media sosial sempat menimbulkan keresahan. “Ada yang bilang disenggol, ada yang bilang didorong, tapi yang kami tahu dari video jelas terlihat almarhum sedang mengambil HP saat insiden terjadi,” kata salah satu pengurus komunitas.
Meski sempat memicu amarah, para ojol kemudian memilih menyalurkan duka mereka dengan cara damai. Sejumlah driver bahkan menginisiasi aksi berbagi bunga di jalan sebagai simbol solidaritas dan penegasan bahwa Jakarta tetap kondusif.
“Tujuan aksi damai ini bukan untuk menghilangkan kasus, tapi untuk menenangkan teman-teman. Kita semua mencari nafkah, jadi jangan sampai terprovokasi,” ungkap salah satu inisiator aksi.
Solidaritas ojol terlihat nyata sejak hari pertama hingga tahlilan di rumah duka. Ribuan driver hadir memberikan penghormatan terakhir untuk Afan. Mereka meyakini bahwa kepergian Afan adalah takdir, namun tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan di tengah beratnya perjuangan hidup di jalanan.
“Kalau satu sakit, semua ikut merasakan. Itulah arti solidaritas kami,” ujar seorang ojol yang ikut mengawal pemakaman.
Hingga kini, komunitas ojol terus berkoordinasi agar anggotanya tidak terprovokasi pasca-insiden. Mereka berharap kasus ini bisa diusut tuntas melalui jalur hukum dan menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Artikel Terkait
Dennis Bergkamp, Maestro Abadi Arsenal yang Mengubah Sepak Bola Jadi Seni
Wapres AS JD Vance Kunjungi Armenia, Tandatangani Kerja Sama Nuklir Damai dan Perkuat Kemitraan Strategis
Mengintip Proses Pembuatan Trofi Piala Dunia 2026 Senilai US$20 Juta
FIRST LOVE is Never Returned Rilis Single “WHAT’S UP?” dan Umumkan Tur Dua-Man Perdana