Citra kuliner- Bagi pencinta pizza otentik Italia, nama Fratelli Di Giovannantonio bukan sekadar pizzeria, melainkan sebuah laboratorium rasa. Sang pemilik, Mattia Di Giovannantonio, bersama keluarganya, membuka dapur mereka untuk memperlihatkan rahasia di balik adonan dan topping yang menjadikan pizzanya begitu istimewa.
“Banyak yang bilang ini pekerjaan, padahal bukan. Ini adalah passion,” ujar Mattia.
Rahasia Adonan: Autolysis & Fermentasi Panjang
Proses dimulai dengan autolysis, yaitu mencampur tepung tipe 0 dengan air dalam takaran tepat—1 kilo tepung dan 600 gram air—lalu didiamkan 4–5 jam. Teknik ini membuat adonan lebih elastis dan menghasilkan pizza dengan crust tipis namun renyah.
Selain itu, fermentasi dingin selama 26–30 jam di lemari es memastikan tekstur adonan tidak keras dan menghasilkan cita rasa yang lebih kompleks.
Mattia juga menambahkan bahwa pizzeria ini menggunakan campuran tepung biji-bijian kuno seperti oats, spelt, dan solina. Untuk ragi, mereka menggunakan 3% ragi segar atau setara 1 gram ragi kering. Sementara minyak biji digunakan sebagai pengganti minyak zaitun agar tidak memengaruhi proses pemanggangan.
Filosofi Bahan: Lokal, Segar, dan Zero Km
Pizzeria ini menjunjung tinggi konsep “zero km”, memanfaatkan bahan lokal dari daerah sekitar. Mulai dari buah ara segar, paprika panggang, hingga tomat datterino kuning dari kebun sendiri.
“Kami sebisa mungkin menghindari bahan kalengan. Semua saus kami buat segar setiap hari,” jelas Mattia.
Ragam Pizza: Dari Tradisional Hingga Inovasi
Beberapa menu andalan antara lain:
• Pizza Amatriciana dengan daging babi Iberico (patanegra) dan Pecorino Romano.
• Margherita Kuning, menggunakan tomat datterino kuning tanpa tambahan garam.
• Pizza Carbonara dengan krim kentang saffron, guanciale goreng, dan mozzarella yang ditambahkan di menit akhir pemanggangan.
Mattia juga menekankan bahwa dapurnya bekerja secara ekspres. “Kami tidak menyiapkan pesanan lima jam sebelumnya. Semua dibuat setelah pesanan masuk. Inilah yang membuat waktu tunggu sedikit lebih lama, tapi hasilnya lebih segar.”
Sentuhan Akhir
Teknik unik seperti double cooking (goreng lalu panggang), hingga penggunaan whey dari mozzarella kerbau yang dipanaskan di atas oven, memberikan kedalaman rasa yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Dengan kombinasi tradisi keluarga, pemilihan bahan berkualitas, serta ketelitian pada setiap detail, Fratelli Di Giovannantonio membuktikan bahwa pizza bukan hanya makanan cepat saji—melainkan seni kuliner yang lahir dari cinta dan kesabaran.( Roma Food)
Artikel Terkait
Dennis Bergkamp, Maestro Abadi Arsenal yang Mengubah Sepak Bola Jadi Seni
Wapres AS JD Vance Kunjungi Armenia, Tandatangani Kerja Sama Nuklir Damai dan Perkuat Kemitraan Strategis
Mengintip Proses Pembuatan Trofi Piala Dunia 2026 Senilai US$20 Juta
FIRST LOVE is Never Returned Rilis Single “WHAT’S UP?” dan Umumkan Tur Dua-Man Perdana