Jakarta – Konser tunggal 40 tahun perjalanan musikal Dwiki Dharmawan siap menjadi salah satu pertunjukan paling dinanti tahun ini. Didukung oleh Parley Indonesia, tiket.com, dan Wonder BNI, konser bertajuk “The Musical Journey of “ini tak hanya merayakan empat dekade kiprah Dwiki, tetapi juga menyuguhkan pengalaman audio-visual yang mendalam dan berkelas.
Dalam sesi jumpa pers yang dihadiri rekan media, sang Creative Director Untung Pranotomengungkap bahwa 95% daftar lagu atau song list konser sudah terkunci. Sisanya tengah difinalisasi untuk memastikan alur dan dinamika konser berjalan seimbang, emosional, dan menghibur dari awal hingga akhir.
“Kita enggak cuma pengin orang datang duduk nonton, tapi merasakan. Ada hook-nya, ada panselannya, ada tundown-nya. Itu semua harus dipikirin. Ini konser, bukan sekadar nyanyi-nyanyi di atas panggung,” kata Untung.
Konser ini juga melibatkan sejumlah kolaborator ternama seperti Sana, Dira Sugandi, Ita Purnamasari, hingga Jengkade, yang merupakan teman Dwiki sejak masa sekolah. Proses pemilihan lagu sendiri diakui berlangsung alot, bahkan disebut-sebut seperti “kerupuk kulit”—lama lembeknya, tapi akhirnya berhasil disusun secara harmonis.
Bukan hanya soal musik, konsep visual dan treatment panggung jadi perhatian utama. Menurut Untung, karena mereka tidak bisa menceritakan kisah di balik tiap lagu secara verbal, maka bahasa visual—dari tata cahaya hingga desain grafis—menjadi alat utama untuk menyampaikan emosi dan cerita Dwiki kepada penonton.
“Kita enggak punya privilege buat bilang, ‘Ini lagu Dwiki dibuat waktu dia galau tahun 1990’. Maka cerita itu kita sampaikan lewat tata panggung dan visual. Musik jadi pelana emosional. Harus ada naik turunnya, enggak bisa rata atau monoton,” jelasnya.
Untung juga menambahkan bahwa ritme konser dirancang seperti narasi film, yang membawa penonton ke dalam perjalanan emosional. Dari lagu syahdu, lagu penuh semangat, hingga bagian klimaks yang membekas.
“Kita harus bikin benang merah dari awal sampai akhir. Nggak mudah. Tapi kalau itu bisa dinikmati penonton, bisa diceritakan ulang setelah konser, itu udah lebih dari cukup buat kami yang kerja di balik layar.”
Meski rendah hati mengaku “hanya bisa main kecimpring”, Untung menjadi jembatan antara para musisi dan tim kreatif untuk menyelaraskan elemen musik dengan tata visual. Seluruh proses disebut sebagai kerja kolektif yang mengutamakan kepuasan penonton.
“Buat saya pribadi, kepuasan itu kalau penonton pulang dan cerita ke orang lain: ‘Konsernya Dwiki keren banget’. Itu saja sudah cukup. Kita yang di balik layar enggak perlu disebut—yang penting hasilnya memorable.”
Konser ini dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat di Jakarta, dan antusiasme publik pun terus meningkat. “The Musical Journey” bukan hanya konser nostalgia, tetapi refleksi artistik dari dedikasi Dwiki Dharmawan terhadap musik Indonesia selama empat dekade terakhir.
Artikel Terkait
Indosiar Sambut Ramadan 1447 H dengan Program Dakwah dan Hiburan Unggulan
U23 Vietnam Raih Medali Perunggu Asia Usai Tundukkan Korea Selatan Lewat Adu Penalti
Ferrari Resmi Meluncurkan SF-26, Awali Era Baru Formula 1 Musim 2026
INDOSIAR dan MENTARI TV Hadirkan “Ramadan Penuh Berkah” dan “Ramadan Ceria” 1447 H