JAKARTA – 25 Juli 2025- Sutradara senior Rizal Mantovani kembali menggebrak dunia perfilman horor Indonesia lewat film terbarunya yang berjudul “Rego Nyowo”, produksi Hitmaker Studios, usai sesi prescreening di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (25/7). Film ini digadang-gadang akan menghadirkan visual dan nuansa pocong yang belum pernah ada sebelumnya di layar lebar Tanah Air.
Dalam sesi jumpa pers usai penayangan, Rizal Mantovani berbagi pengalaman di balik layar, termasuk soal proses kreatif, tantangan lokasi, hingga pendekatannya terhadap karakter utama film ini: sebuah entitas pocong yang misterius dan menyeramkan.
“Kita coba bikin penggambaran pocong yang beda, karena sudah terlalu banyak versi sebelumnya. Di sini, pocongnya punya ciri khas—digantung tapi talinya nggak punya ujung, lidahnya pun punya karakteristik sendiri,” ungkap Rizal.
Syuting Ekstra Panjang dan Diskusi Intens di Set
Tak seperti produksi film horor pada umumnya, Rego Nyowo menempuh waktu syuting selama 31 hari, lebih panjang dibanding rata-rata produksi Rizal yang biasanya berkisar 26-27 hari. Menurut Rizal, tambahan waktu ini justru memberi ruang untuk memperdalam interpretasi tiap adegan.
“Setiap scene, meskipun sudah melalui proses reading panjang, kita tetap duduk lagi, ngobrol, gali esensinya. Semua cast sangat terbuka dan solid. Jadi diskusinya terasa hidup, bukan terburu-buru,” jelasnya.
Lokasi Mistis: Dari Universitas Brawijaya hingga Ladang Pisang Tak Masuk Akal
Film ini mengambil lokasi syuting di dua kota besar: Jakarta dan Malang, termasuk kawasan Batu, Universitas Brawijaya, hingga Terminal Arjosari. Namun, tantangan terbesar justru muncul saat kru harus mencari ladang pohon pisang super luas untuk keperluan pengambilan gambar menggunakan drone.
“Paroki minta kebun pisang yang ‘ngas banget’. Yang luas tapi juga kelihatan ‘angker’. Ternyata nyari lokasi kayak gitu susahnya luar biasa. Sampai akhirnya ketemu juga, itu pun sudah kayak nemu harta karun,” ujarnya sambil tertawa.
Horor Fisik dan CGI: Kombinasi Praktikal & Digital
Rizal juga menekankan bahwa Rego Nyowo menggunakan kombinasi efek praktikal dan CGI, bukan bergantung penuh pada efek digital. Menurutnya, horor terbaik adalah yang terasa nyata namun tetap ditopang oleh teknologi visual yang presisi.
“Saya percaya praktikal itu penting. Kalau sekarang ditanya, mungkin 10 persen CGI. Sisanya praktikal. Bagi saya, itu kombinasi paling efektif buat horor,” tuturnya.
Kisah Mistik, Visual Unik, dan Teror yang Baru
“Rego Nyowo” akan membawa penonton ke dalam kisah penuh simbolisme tentang harga sebuah nyawa, dengan visual gelap yang dihantui siluet pisang dan sosok pocong menggantung yang berbeda dari penggambaran tradisional. Film ini juga dibintangi oleh deretan aktor muda berpengalaman, yang disebut Rizal “sudah kenyang pengalaman walau usia mereka masih muda.”
Dengan latar produksi yang matang, pendekatan sinematik yang detail, serta interpretasi baru terhadap horor klasik Indonesia, Rego Nyowo berpotensi menjadi salah satu film horor lokal yang mencetak kesuksesan besar di 2025.
Artikel Terkait
Titiek Haryati Hadiri Sidang Pledoi Ammar Zoni sebagai Pemerhati, Soroti Pentingnya Rehabilitasi
Eli Murni Matuo Ammar Zoni Harap Rehabilitasi, Pledoi Jadi Penentu Nasib di Persidangan
Indonesia Kantongi Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan
NASA Luncurkan Misi Artemis II, Astronaut Kembali Mengitari Bulan Setelah 50 Tahun