Seoul, 5 Juli 2025 — Korea Selatan tengah dilanda musim panas yang luar biasa ekstrem tahun ini. Biasanya, awal Juli menjadi puncak musim hujan atau jangma, namun kali ini situasinya berbeda. Warga Korea masih membawa payung, bukan untuk menahan hujan, melainkan untuk berlindung dari terik matahari yang menyengat.
Badan Meteorologi Korea (KMA) resmi mengumumkan bahwa musim hujan telah berakhir lebih cepat dari biasanya di Pulau Jeju dan kawasan selatan negara itu. Hal ini dipicu oleh pergeseran tekanan tinggi Samudra Pasifik Barat Laut yang mendorong garis front monsun menjauh ke barat laut. Catatan cuaca menunjukkan, ini adalah akhir musim hujan tercepat di Jeju sejak data nasional mulai dicatat pada tahun 1973.
Suhu di sejumlah wilayah Korea Selatan kini berkisar antara 33°C hingga 35°C, dengan kondisi heatwave dan tropical nights diperkirakan masih terus berlanjut. Dampaknya pun mulai terasa luas. Kasus penyakit akibat panas tercatat melonjak hingga 30% dibandingkan tahun lalu, menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan setempat.
Di sisi lain, berbagai kawasan wisata favorit justru tampak lengang karena masyarakat menghindari aktivitas luar ruangan. Sebaliknya, pantai-pantai di Pulau Jeju menjadi pelarian warga yang ingin meredakan panas. Lebih dari 80.000 orang tercatat mengunjungi pantai-pantai di Jeju hanya dalam sepekan setelah pembukaan awal musim panas ini, meningkat hampir 270% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebagai langkah pencegahan, otoritas kesehatan terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sering minum air putih, dan mandi lebih sering guna menjaga suhu tubuh tetap stabil di tengah cuaca ekstrem yang melanda negeri ginseng.
Fenomena musim panas tanpa hujan seperti ini menjadi peringatan tersendiri akan perubahan pola iklim di kawasan Asia Timur yang semakin terasa dari tahun ke tahun.
Artikel Terkait
Dennis Bergkamp, Maestro Abadi Arsenal yang Mengubah Sepak Bola Jadi Seni
Wapres AS JD Vance Kunjungi Armenia, Tandatangani Kerja Sama Nuklir Damai dan Perkuat Kemitraan Strategis
Mengintip Proses Pembuatan Trofi Piala Dunia 2026 Senilai US$20 Juta
FIRST LOVE is Never Returned Rilis Single “WHAT’S UP?” dan Umumkan Tur Dua-Man Perdana