Jakarta – Aktor Ibnu Jamil turut menanggapi isu pengurangan takaran minyak goreng dari 1 liter menjadi 800 ml, yang belakangan menjadi sorotan publik. Ia menilai hal ini sebagai bentuk ketidakadilan bagi konsumen, terutama bagi para pelaku usaha yang sangat bergantung pada minyak goreng dalam operasional mereka.
“Kita sebagai konsumen beli sesuatu yang kita butuhkan. Barang itu sudah ditawarkan dengan jumlah tertentu, kita bayar sesuai harga. Tapi ketika kita bayar dan ternyata yang kita dapat tidak sesuai dengan hak kita, jelas kita dirugikan,” ujar Ibnu Jamil.
Menurutnya, perubahan takaran ini bukan sekadar masalah kecil, tetapi berdampak besar terutama bagi masyarakat yang menggantungkan usahanya pada minyak goreng.
“Saya kebetulan juga punya usaha di Food & Beverage (F&B). Pasti terasa, karena perhitungannya jadi berantakan. Modal yang kita hitung sekian, tiba-tiba berubah karena jumlah minyak yang berkurang,” ungkapnya.
Ibnu juga menyoroti dampaknya bagi pedagang kecil, seperti penjual gorengan dan ibu rumah tangga yang sangat bergantung pada minyak goreng.
“Pedagang kecil di pinggir jalan, ibu-ibu rumah tangga, UMKM, sampai usaha besar juga kena dampaknya. Kalau sampai terus begini, mereka benar-benar dirugikan,” katanya dengan nada prihatin.
Meski begitu, Ibnu Jamil mengaku belum berani berkomentar lebih jauh terkait solusi yang bisa dilakukan, namun ia berharap ada kejelasan dan perlindungan bagi konsumen.
“Aduh, saya sendiri sampai mikir-mikir buat pesan minyak. Semoga ada kebijakan yang berpihak ke kita sebagai pembeli,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dennis Bergkamp, Maestro Abadi Arsenal yang Mengubah Sepak Bola Jadi Seni
Wapres AS JD Vance Kunjungi Armenia, Tandatangani Kerja Sama Nuklir Damai dan Perkuat Kemitraan Strategis
Mengintip Proses Pembuatan Trofi Piala Dunia 2026 Senilai US$20 Juta
FIRST LOVE is Never Returned Rilis Single “WHAT’S UP?” dan Umumkan Tur Dua-Man Perdana